Latah Sebagai Salah Satu Gangguan Kebahasaan

 

Foto: Repro BidikNews.net

Oleh : Muhammad zakki amrullah 

Latah merupakan gejala yang sangat sering kita jumpai di lingkungan sekitar. Penyakit latah atau yang bisa juga disebut dengan echopraxia adalah kondisi yang ditandai dengan pengulangan secara tidak sengaja dari perilaku atau gerakan orang lain.reaksi spontan ketika seseorang dikejutkan dengan hal tertentu, misalnya suara benda terjatuh atau mendengar suara keras. Kondisi yang juga disebut Jumping Frenchman of Maine ini bisa dialami oleh siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa, sering di jumpai dari mulai usia 3 tahun ke atas.juga bisa dijumpai di anak usia 1sampai 3 tahun saat sedang belajar bicara dan mengenal lingkungan sekitar.uniknya juga penyakit ini hanya bisa di jumpai di daerah asia tenggara seperti Indonesia, Malaysia,dan Thailand .

Apa Penyebab Latah Bisa Terjadi.

seperti penjelasan sebelumnya latah bisa di alami oleh siapa saja, pada anak usia 1 sampai 3 tahun disebut dengan latah Ekolalia atau Ekoprasia saat mereka sedang belajar berbicara dan dan mempelajari lingkungan sekitar . namun patut di waspadai ,jika masih terjadi di anak usia lebih dari 3 tahun, hal tersebut bisa bisa menjadi gejala autisme. sementara pada orang dewasa latah biasanya di sebabkan oleh perasaan cemas dan tertekan ,saat mendengar suara yang sangat keras secara tiba-tiba , atau merasakan guncangan hebat di tubuh secara tiba-tiba, hingga mengulang kata-kata dan gerakan tubuh orang disekitarnya.

Faktor Resiko Latah

Latah bisa saja tertular jika berada di lingkungan dan berinteraksi dengan lama dan teratur, secara tidak langsung dan tidak di sadari teman teman di sekitar bisa menirukan latah tersebut oleh sebab itu , Ada kemungkinan bahwa faktor genetik dan lingkungan dapat berperan dalam memicu perkembangan jenis gangguan ini.

Gejala Latah

Berikut adalah empat jenis latah sebagai gejalanya yang perlu di ketahui :

1. Kolalia

Penyebab terjadinya jenis latah ini dikarenakan sistem indra yang dimiliki siengidap mengalami gangguan. Khususnya mata, mulut, dan telinganya. Biasanya, pengidap tidak bisa mengontrol reaksinya tersebut, ketika terkejut. 

2. Ekopraksia

Ekopraksia merupakan jenis reaksi latah di mana pengidapnya menirukan gerakan orang lain. Latah jenis ini dianggap lebih parah dari ekolalia, karena bisa saja membuat pengidap jumping frenchmen of maine melakukan gerakan berbahaya. 

3. Koprolalia

Koprolalia merupakan kondisi ketika pengidap latah mengeluarkan kata-kata yang dianggap tabu, vulgar, atau kasar sebagai reaksi latahnya. biasanya latah seperti ini di karenakan lingkungan di penderita.

4. Automatic Obedience

Kondisi latah yang ini bisa di katakan cukup fatal, Sebab, orang yang memiliki latah jenis ini dapat melaksanakan perintah yang disampaikan orang lain secara spontan. Meskipun perintah yang diberikan berbahaya, bukan tidak mungkin dia akan tetap melakukan perintah tersebut.

Bagaimana Cara Mengobati Latah.

latah sangat sulit sekali untuk diobati bahkan tidak mungkin ,penyakit ini hanya bisa berkurang seiring bertambahnya usia sipengidap.berikut beberapa terapi untuk mengurangi latah :

1. Menggunakan obat obatan jika si penderita mengalami stres akibat mendengar suara keras ,kejutan, atau kecemasan akibat respon saat terkejut.dapat meresepkan obat tertentu seperti Antidepresan atau obat penenang.

2. Terapi bicara, mungkin cara ini akan lumayan efektif untuk mengobati latah

3. meditasi, relaksasi, atau olahraga untuk menjaga ketenangan dan mengurangi keemasan berlebih.

Oleh karena itu Penderita latah sebaiknya menghindari situasi yang dapat menimbulkan stres atau kejutan, serta berusaha untuk menjaga ketenangan dan keadaan pikiran. Selain itu, menerima keadaan yang sipengidap alami juga bisa membuat semakin tenang .menghindari konsumsi kafein atau stimulan yang dapat meningkatkan tingkat kegugupan, juga disarankan untuk Konsultasikan dengan ahli kesehatan untuk saran yang lebih spesifik sesuai kondisi Penderita.

    Penulis adalah: 

  • Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, UNW Mataram, 2024


0 Komentar