RAMADHAN,MENGOKOHKAN PRINSIP KESEDERHANAAN BEREKONOMI Oleh Dr. H. Muhammad Irwan Husain, MP


Dr. H. Muhammad Irwan Husain, MP
( Ekonomi Syariah Bag.2 )

Alhamdulillah, Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk membersamai bulan ramadhan tahun ini yang tanpa terasa kita  telah berada berada  paruh kedua  melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Semoga semua itu akan menjadi bekal yang akan mengisi bahtera bulan ramadhan kelak ketika saatnya dia akan pergi meninggalkan kita.

Mari kita senantiasa berdo’a semoga sisa-sisa bulan ramadhan yang kurang dari 20 hari lagi semakin bersemangat untuk membersihhkan hati, jiwa dan pikiran serta tindakan yang dapat membatalkan atau menyebabkan ibadah puasa kita sia-sia, tidak memperoleh apa-apa. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW 

“Banyak orang yang melakukan puasa tetapi tidak memperoleh apa-apa melainkan hanya lapar dan dahaga”

Oleh karenanya, bulan ramadhan adalah kesempatan terbaik kita untuk meningkatan kualitas dan kuantitas taqwa kepada Allah yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Telah dimaklumi bersama, bahwa gerakan setan dibulan ramadhan ini benar-benar telah tidak memiliki ruang bebas untuk bergerak menggoda manusia, karena telah dikerangkeng dan dibelenggu. 

Insan beriman diberi kesempatan sebanyak-banyaknya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah amaliahnya agar dapat menggapai ridho Allah SWT. Yang menjadi lawan insan beriman ini dalam menjalankan puasa dan ibadah-ibadal lainnya di bulan ramadhan ini adalah hawa nafsu yang selalu beriringan dengan pergerakan manusia yang berpuasa.

Salah satu ajaran ramadhan yang berkenaan dengan pengekangan hawa nafsu adalah bersikap sederhana. Insan beriman dituntut untuk bersikap sederhana atau berada ditengah-tengah yaitu tidak berlebih-lebihan dan tidak pula terlalu berhemat. Sikap sederhana ini akan semakin kokoh berdiri di bulan ramadhan dan semakin diimplementasikan pada bulan-bulan lain di luar ramadhan. 

Ramadhan akan mempersempit  kesempatan syetan untuk menyebarkan godaan pada manusia dan mencegahnya untuk menyibukkan manusia dalam pemborosan seperti  berlebih-lebihan dalam berbicara, berlebih-lebihan dalam makanan,  berlebih-lebihan dalalm tidur,  berlebih-lebihan dalam mendengar  dan melihat ha-hal yang tidak perlu, bahkan berlebihan-lebihan dalam berjalan dan berprilaku. Tidak adanya  sikap hemat atau sederhana dalam hal-hal tersebut, akan  menjadi pintu luas bagi syetan untuk menggiring manusia mengikuti langkahnya. Allah SWT telah berfirman  

“Dan orang-orang yang membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara yang demikian (Al-Furqan; 67).

Ramadhan dengan menjalankan puasa akan mampu membawa manusia untuk mengendalikan bisikan dan ajakan hawa nafsu dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala berpuasa. 

Ia akan menjadi sarana pembelajaran insan beriman untuk dapat mengendalikan diri dari sikap berlebih-lebihan dan kikir menjadi jiwa yang sederhana dalam segala tindakan dan aktivitas kehidupan termasuk dalam membelanjakan dan mengeluarkan harta kekayaan. 

H. Muhammad Irwan berpose bersama Pj. Walikota Bima HM.Rum dan Kabag Humas dan kerjasama UIN Mataram, H. Sapardi, SE, MM disalah satu acara namun tetap dalam kesederhanaan

Kokohnya  Kesederhanaan dalam berekonomi

Prinsip pertengahan (sederhana) merupakan salah satu prinsip dalam ekonomi Islam, dengan merujuk pada firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 143 yang artinya “…. Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan”…

Prinsip ini mengandung makna yang luas dan harus dipatuhi oleh setiap insan terutama yang terlibat langsung dalam aktivitas ekonomi terutama aktivitas konsumsi dan produksi. 

Kesederhanaan dalam berekonomi mengandung makna bahwa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup harus bersifat rasional, tidak menggunakannya berdasarkan naluri kebebasan yang tidak terbatas, tetapi harus benar-benar sesuai dengan kebutuhannya. 

Kesederhanaan dalam memenuhi kebutuhan mencirikan manusia yang memiliki kepedulian terhadap orang lain dan alam tempat kehidupannya. Manusia yang menerapkan prinsip kesederhanaan dalam melakukan aktivitas ekonomi, tidak merasakan adanya beban kehdiupan. 

Dia tidak memikirkan untuk memiliki sesuatu yang belum dibutuhkan sangat mendesak untuk menghindari kemubaziran, karena dia tahu mubazir adalah sifat syetan. Dia benar-benar menerapkan prinsip keseimbangan dalam kehidupan, baik untuk dirinya, keluarga maupun lingkungannya. 

Manusia yang sederhana adalah manusia yang telah menerapkan prinsip pertengahan, yaitu tidak berlebih-lebihan yang mengundang lahirnya sikap mubazir, boros yang bermuara hadirnya sifat sombong. Dia juga berusaha untuk tidak terlalu berhemat yang menyebabkan hadirnya sifat kikir, pelit yang bermuara lahinrya sifat egois, tidak mau pemperhatikan diri sendiri. 

Sikap sederhana yaitu berada pada posisi di tengah artinya tidak boros dan tidak kikir. Orang yang kaya yang biasanya berlimpah harta, dapat melakukan kehidupan sederhana agar dapat merasakan lapar dan dahaganya berhari-hari yang dirasakan oleh orang-orang yang tidak punya atau miskin. 

Salah satu aktivitas yang menonjol dalam bulan ramadhan ini adalah aktivitas konsumsi, yang dapat membawa dampak bagi perkembangan kehidupan manusia selanjutnya. Menerapkan sikap sederhana merupakan salah satu prinsip berkonsumsi dalam Islam. Manusia dalam melakukan konsumsi makanan dan minuman sekadarnya saja dan tidak berlebih-lebihan karena akan berbahaya bagi kesehatan. 

“Makan dan minumlah  dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Qs. Al-A’raf; 31). “

Ramadhan hadir untuk memberantas orang yang pelit,kikir juga memberantas sikap boros dan mubajir dan mengokohkan kesederhanaan.

(a) Kikir adalah orang yang tidak mau membelanjakan/mengeluarkan harta dan uangnya untuk diri dan keluarganya apalagi untuk bersedekah kepada orang lain. Salah satu firman Allah berkenaan dengan kekikiran terdapat dalam surat Al Isra ayat 29  

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janga terlalu mengulurkannya ( jangan terlalu kikir dan jangan terlalu pemurah), sehingga karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. 

Hadis Nabi berkenaan dengan kekikiran di antaranya “Berinfaklah jangan menghitungnya agar Allah tidak menghisabmu, dan janganlah menimbun agar Allah tidak menahannya darimu. Berinfaqlah sesuai kemampuanmu (HR. Bukhari dan Muslim). Pada hadis lain Nabi bersabda 

“Dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia dan jauh dari neraka; adapun si kikir jauh dari Allah, jauh dari dari surga, jauh dari manusia dan dekat dengan neraka. Dermawan yang bodoh lebih disukai Allah dari pada si kikir yang pandai (HR. Titrmidzi).

(b) Boros adalah (1) orang yang membelanjakan harta (uang) untuk barang yan haram walau uangnya sedikit: (2) orang yang melakukan belanja berlebihan pada barang yang halal dan (3) orang yang berbelanja atau bersedekah untuk pamer dan ingin dipuji. 

Firman Allah berkenaan sifat boros di antaranya terdapat dalam surat Al-Isra ayat 26 - 27 yang artinya 

”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga  yang dekat akan haknya,  kepada orang miskin dan yang  dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu secara boros). Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara saudaranya setan dan  setan itu adalah sangat ingkst kepada Tuhannya. 

Abu Hurairah berkata bahwa Nabi telah bersabda “bahwa satu hal yang paling tidak disukai Allah tentang kalian adalah pemborosan”. 

Dalam perspektif ekonomi Islam, sikap boros dan kikir sangat tidak ditolerir karena dapat mengganggu stabilitas ekonomi. Orang yang boros cenderung melakukan penggunaan sumber daya yang berlebihan dan dihamburkan pada pada hal-hal yang tidak berguna dan bukan pada tempatnya. 

Orang yan boros cenderung bersikap tidak puas. Sementara sikap kikir adalah cenderurng menahan sumberdaya yang ada  padahal sangat dibutuhkan oleh orang lain. Orang yang kikir cenderung bersikap egois dan mementingkan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan bersama. 

Berkenaan dengan hal ini Nabi telah bersabda “Tiga faktor yang membinasakan tatanan kehidupan yaitu kekikiran yangh dipatuhi, hawa nafsu yang diikuti dan membanggakan diri sendiri (Hr. Thbarani).

( c ) Sederhana,  merupakan posisi pertengahan (sedang), bersahaja dan tidak berlebih-lebihan. Kesederhanaan adalah sesutu yang berkenaan dengan sifat sederhana. 

senatiasa bersama dalam kesederhanaan

Kesederhanaan merupakan salah satu jalan untuk menciptakan ketenangan dan keamanan dalam kehidupan bermasyarakat. Kesederhanaan merupakan hal yang mutlak dibutuhkan dalam aktivitas ekonomi. 

Kesederhanaan berekonomi Islam dimaksudkan agar harta kekayaan yang dimiliki dapat dipergunakan pada jalan yang benar. Kesederhanaan berekonomi mengarahkan manusia untuk bertindak secara rasional, menghemat penggunaan harta pada hal yang bermanfaat bagi dri dan orang lain.

Kesederhanaan berekonomi dengan prinsip tidak boros akan menjadikan perekonomian dapat berjalan dengan baik, mengantarkan manusia sama-sama merasakan manfaat karena saling memberi dan menerima. 

Kesederhanaan ekonomi membawa manusia hidup dalam kewajaran, tidak menuntut lebih banyak sesuai dengan kebutuhannya. Kesederhanaan berekonomi akan mampu menjadikan pelaku ekonomi untuk bersyukur dari usaha keringatnya sendiri meskipun relatif jumlahnya. 

Dr. H. Muhammad Irwan Husain, MP adalah : Dosen Senioe FEB Unram dan Ketua Umum RKBPL - Rukun Keluarga Bima Pulau Lombok.


0 Komentar