Intuisi yang Tajam itu Bernama "Bashirah" Oleh : Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd


Di dalam diri manusia ada satu anugerah yang luar biasa nilainya yang Tuhan selipkan di dalam hati, namanya bashirah. Bashirah merupakan suatu cahaya yang Tuhan tempel di dalam kalbu manusia dan berfungsi menjadi daya intuisi yang sangat tajam. Dengan kekuatan bashirah, manusia akan memiliki daya tembus, daya tangkap, dan daya jangkau yang melampaui kekuatan makhluk biasa.

DALAM halaqah ulama dijelaskan bahwa bashirah  itu merupakan suatu kekuatan lebih yang dimiliki oleh manusia berupa kemampuan melihat dengan hati atau mata hati, yang dengan cahaya hati tersebut kita bisa melihat hakikat segala sesuatu. Yang jelas melihat dengan mata hati jauh lebih utama dibanding dengan mata lahir, karena mata hati tidak akan pernah tertipu dengan tampilan luar dan bisa melihat hakikat kebaikan atau keburukan dibaliknya. bashirah  disebut juga dengan pandangan yang jauh, karena ia memandang dengan hati, bukan dengan mata lahir.

”Afalam yasîrû fil-ardli fa takûna lahum qulûbuy ya‘qilûna bihâ au âdzânuy yasma‘ûna bihâ, fa innahâ lâ ta‘mal-abshâru wa lâkin ta‘mal-qulûbullatî fish-shudûr”. Terjemahannya: Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada. (Al-Hajj 46)

Semua manusia dibekali oleh Tuhan dengan bashirah sebagai potensi intelektual atau intuisi yang dapat digunakan untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang kebijaksanaan dalam kehidupan yang dijalaninya.

Dengan bashirah  manusia bisa menembus batas dan ruang, sehingga tirai ataupun sekat yang memisahkan satu obyek dengan obyek lainnya akan tersingkap. Dengan bantuan bashirah, manusia mampu melampaui batas-batas ruang yang biasanya memagari persepsi dan pemahaman, mampu melihat ke dalam diri sendiri maupun luar diri dan bahkan melampaui dimensi fisik. Ini bisa memperluas pemahaman kita tentang dunia dan isinya melalui introspeksi, meditasi, atau bahkan melampaui kekuatan ilmu pengetahuan yang mendalam sekalipun. Dengan mengembangkan ketajaman bashirah, manusia dapat mengeksplorasi wilayah-wilayah yang lebih dalam dari eksistensi dan meningkatkan pemahaman tentang ruang dan waktu.

Bashirah manusia juga mampu menjangkau obyek yang memiliki jarak sehingga berada sangat dekat dengan obyek yang sangat jauh. Dalam konteks spiritual, kekuatan ini bisa diartikan sebagai kemampuan koneksitas dari seseorang yang memiliki daya jangkau yang begitu kuat sehingga dapat menembus batas waktu, ruang, atau dimensi lainnya, semisal refleksi, meditasi, atau pengalaman mistis.


Kemampuan untuk melampaui batas-batas yang menjadi penanda keterbatasan fisik dalam memahami realitas, menjadi kekuatan yang bermuara pada bashirah , sehingga dalam tradisi agama dianggap sebagai anugerah atau pencerahan yang diberikan oleh Tuhan kepada hamba-Nya untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang kebenaran atau realitas yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, usaha manusia untuk mengembangkan bashirah lebih merupakan proses spiritual yang erat kaitannya dengan peningkatan kesadaran akan pemahaman diri.

Kemudian dengan bashirah manusia bisa berkomunikasi dengan sempurna bersama obyek yang tidak terdengar suaranya, obyek yang tidak nampak perilakunya, dan dengan suara yang bahasanya tidak berlambang bunyi. Kemampuan ini mengacu pada komitmen untuk merasakan atau memahami hal-hal yang lebih mendalam dari sekadar apa yang bisa dirasakan oleh panca indera. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki ketajaman bashirah  akan bisa merasakan kebenaran atau keberadaan sesuatu meskipun tidak ada bukti nyata tentang kebenarannya yang bisa dilihat atau didengar.

Dalam konteks komunikasi makrokosmos, dengan bashirah memungkinkan seseorang untuk memahami pesan atau maksud yang mungkin tidak diungkapkan secara langsung melalui suara atau lambang bunyi, melainkan dengan hal-hal yang lebih mendalam dan tersembunyi.

Selanjutnya dengan bashirah manusia juga mampu menjangkau obyek yang memiliki jarak sehingga berada sangat dekat dengan obyek yang sangat jauh. Dalam konteks spiritual, kekuatan ini bisa diartikan sebagai kemampuan koneksitas dari seseorang yang memiliki daya jangkau yang begitu kuat sehingga dapat menembus batas waktu, ruang, atau dimensi lainnya, semisal refleksi, meditasi, atau pengalaman mistis. Dalam konteks kekinian (baca:digital), kondisi ini bisa merujuk pada penginderaan jarak jauh, di mana manusia dapat mengakses informasi atau menghubungkan diri dengan objek atau orang yang berada jauh di tempat lain melalui teknologi.

Juga dengan bashirah manusia mampu mewujudkan rencana yang sedang dirancang dalam wujud karya nyata yang sempurna. Artinya bashirah  itu mengisyaratkan ketajaman kecerdasan atau pengelihatan, sehingga dapat menyuguhkan kenyataan dari sesuatu yang masih direncanakan. Ketika seseorang memiliki ketajaman bashirah akan cenderung lebih mampu melihat gambaran dari rencana yang belum terwujud dalam bentuk karya nyata secara detail.

Akhirnya dengan bashirah manusia juga mampu memandang dengan sangat jelas obyek yang tidak terlihat secara kasat mata. Artinya, didalam kekuatan bashirah  itu ada daya untuk dapat melihat atau memahami hal-hal yang tidak terlihat secara langsung oleh mata lahir, tetapi dapat dilihat dengan “mata hati”. Ini mencerminkan bahwa bashirah itu tidak hanya terbatas pada persepsi visual fisik, tetapi juga mencakup pengetahuan yang lebih mendalam tentang metafisik.


Dengan memahami konsep tentang kekuatan bashirah di atas, penting bagi kita untuk berlatih menajamkan fungi bashirah yang ada didalam hati kita, agar hati dapat membaca situasi dengan lebih baik, bisa membuat keputusan yang lebih tepat, dan akan mudah mengurai fenomena dalam situasi yang kompleks sekalipun, yang memungkinkan untuk membuat keputusan yang lebih baik dan lebih bijaksana.

Pertanyaannya, bagaimana  mengasah bashirah  untuk sebuah intuisi yang tajam? Jawaban sementara adalah merenung secara mendalam (meditasi) menjadi salah satu cara yang sangat efektif untuk meningkatkan fungsi bashirah , karena dalam proses merenung memungkinkan seseorang untuk mengeksplorasi pemikiran, emosi, dan pengalaman mereka dengan lebih mendalam, yang pada gilirannya dapat membantu mendapatkan pengalaman spiritual baru, terutama pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri, orang lain, dan dunia di sekitar.

Sebagai catatan akhir, bahwa keseimbangan antara bashirah  (ketajaman hati) dan mata lahir (pengamatan sensorik) merupakan konsep yang penting untuk mencapai pemahaman yang utuh tentang kebenaran serta mencapai kesempurnaan sebagai manusia. Keduanya harus saling melengkapi, seperti ketika seseorang tengah merenung tentang sesuatu yang tak tampak, maka saat itulah  bashirah  telah berfungsi, dan untuk menyempurnakan hasil perenungan, perlu disatupadukan antara bashirah dan kebijaksanaan mata lahir, untuk mengamati keindahan konteks yang mungkin mempengaruhi kesempurnaan nilai dari kekuatan bashirah.

* Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd adalah : Wakil Rektor II UIN Mataram


0 Komentar