Ketika Amanah menjadi Awal Hisab: Renungan Pelantikan Umar bin Abdul Aziz yang Menggigilkan Hati, Oleh Prof. DR. H. Maimun, M. Pd

Komitmen Umar bin Abdul Aziz bisa menjadi cermin bagi setiap orang yang mendapat amanah — baik sebagai pemimpin, guru, orang tua, atau bahkan pemimpin kecil dalam lingkup komunitas, bahwa jabatan bukan sekadar kehormatan, melainkan ladang ujian dan tanggung jawab

Umar bin Abdul Aziz tatkala dilantik menjadi khalifah, menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik, beliau menangis sambil menundukkan kepala, lalu mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un“. 

Ucapan Umar bin Abdul Aziz tersebut dapat kita jadikan sebuah renungan yang cukup mendalam, sebuah kalimat yang biasa diucapkan ketika seseorang tertimpa musibah, tetapi Umar bin Abdul Aziz mengucapkannya usai dilantik. Bukankah dilantik menjadi khalifah adalah sebuah kehormatan, bukan musibah? Dan ternyata dibalik ucapan itu terkandung kedalaman spiritual dan kesadaran kepemimpinan yang luar biasa.

Umar bin Abdul Aziz tidak melihat jabatan sebagai kebanggaan, tetapi sebagai beban amanah yang berat, beliau sadar bahwa kekhalifahan bukanlah sekadar posisi strategis, melainkan tanggung jawab kosmik di hadapan sang Khalik. Ia sedang memikul nasib umat, menegakkan keadilan, menjaga agama, dan memastikan kesejahteraan rakyat.

Kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” yang berarti sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nyalah kami kembali. (QS. Al-Baqarah: 156) dimaknai oleh Umar bin Abdul Aziz sebagai penegasan bahwa dirinya, jabatannya, dan kekuasaan yang ia emban adalah milik Allah. Kekhalifahan itu bukan miliknya, bukan hak untuk berkuasa, melainkan amanah yang harus dijalankan sesuai kehendak Pemilik sejati, yaitu Allah Robbul Alamin. Dengan kalimat ini pula Umar bin Abdul Aziz menegaskan kesadarannya akan akhir perjalanan hidupnya, bahwa suatu hari ia akan kembali menghadap Tuhan, dan akan ditanya bagaimana ia menunaikan amanah itu.

Di samping itu, ucapan Umar bin Abdul Aziz sekaligus mencerminkan kerendahan hati dan rasa takut (khasyyah) terhadap amanah tersebut, beliau tidak merayakan pelantikannya dengan sukacita duniawi, tetapi justru mengawali kepemimpinannya dengan introspeksi dan perenungan diri yang mendalam. Inilah yang membuat kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz begitu monumental, karena dia memulai langkah kepemimpinannya dengan kesadaran spiritual, bukan ambisi politik.

Lebih jauh, ucapan Umar bin Abdul Aziz tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kekuasaan, jabatan, atau amanah apapun seharusnya dilihat dengan kacamata tauhid, semua yang kita emban akan kembali dipertanggungjawabkan, sehingga mengucapkan ”inna lillah” berarti kita sadar tentang posisi kita hanyalah seorang hamba, sementara mengucapkan ”wa inna ilaihi raji’un” berarti kita sedang mempersiapkan diri untuk hari pertanggungjawaban nanti.

Ketika umat menaruh harapan di pundaknya, ketika gelar khalifah diucapkan di hadapan manusia, Umar bin Abdul Aziz tidak tersenyum bangga, ia tidak mengangkat kepalan tangan sebagai simbol kemenangan, akan tetapi ia justru menundukkan kepala, lalu bibirnya bergetar mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un“.

Selanjutnya Umar bin Abdul Aziz menegaskan prinsip kepemimpinannya dengan berkata: ”Wahai manusia, aku bukanlah orang yang meminta jabatan ini. Aku dibebani tanggung jawab ini tanpa diminta. Aku telah melepaskan kehormatan dunia dari hati, dan aku takut amanah ini akan menjerumuskanku.”


Dengan komitmen ini, Umar bin Abdul Aziz telah menutup celah keangkuhan dan menjadikan pelantikannya sebagai momentum untuk mempererat hubungan antara pemimpin dengan rakyat yang dipimpinnya dalam kerangka pengabdian kepada Allah.

Komitmen Umar bin Abdul Aziz bisa menjadi cermin bagi setiap orang yang mendapat amanah — baik sebagai pemimpin, guru, orang tua, atau bahkan pemimpin kecil dalam lingkup komunitas, bahwa jabatan bukan sekadar kehormatan, melainkan ladang ujian dan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Bagi Umar bin Abdul Aziz, pelantikannya sebagai khalifah menjadi permulaan hisab, dan jabatan bukanlah kemuliaan, tetapi amanah yang kelak ditanyakan satu per satu di hadapan Rabbul ‘Alamin. Dalam hatinya, Umar berbisik lirih: “Ya Allah, aku milik-Mu, kini Engkau titipkan kepemimpinan ini padaku. Aku akan kembali kepada-Mu, lalu Engkau akan bertanya bagaimana aku memimpin umat-Mu. Jangan biarkan aku tergelincir, jangan biarkan aku lalai.”

Begitulah Umar bin Abdul Aziz memulai kepemimpinannya, bukan dengan euforia, melainkan dengan rasa takut. Bukan pula dengan pidato kemenangan, melainkan dengan doa yang menggigilkan hati. Ia sadar bahwa setiap keputusan akan menjadi saksi di akhirat, setiap kebijakan akan berbicara di hadapan Allah.

Refleksi ini mengajarkan kita bahwa setiap amanah — besar atau kecil — seharusnya membuat kita lebih tunduk, bukan lebih sombong. Tatkala kita yang bernasib menjadi pemimpin, guru, ayah, ibu, atau penggerak di masyarakat, seharusnya memulai setiap langkah dengan kesadaran yang sama dengan Umar bin Abdul Aziz, bahwa kita hanyalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Maka, jika kita mendapatkan kepercayaan, jika nama kita dipanggil untuk memikul sebuah amanah, hendaklah hati kita mengucapkan apa yang Umar bin Abdul Aziz ucapkan. Bukan untuk meratapi, tetapi untuk mengingatkan diri, bahwa perjalanan ini bukan sekadar menuju masa depan di dunia, tetapi menuju perjumpaan dengan Sang Khlaik.

Sebagai catatan pinggir, bahwa ucapan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” yang dilantunkan Umar bin Abdul Aziz saat dilantik menjadi khalifah, bukanlah ekspresi kesedihan, melainkan pernyataan spiritual yang mendalam, bahwa Umar bin Abdul Aziz memandang kepemimpinan itu bukan sebagai kehormatan atau kemenangan politik, melainkan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan.

Bagi Umar bin Abdul Aziz, pelantikan bukanlah awal euforia, tetapi awal hisab, sehingga dengan memulai kepemimpinannya dalam kesadaran tauhid, sesungguhnhya beliau sedang memberi teladan kepada seluruh pemimpin bahwa setiap amanah — baik jabatan kepemimpinan, maupun peran dalam keluarga dan masyarakat — harus dijalankan dengan rasa tanggung jawab spiritual. 

Refleksi ini mengajarkan bahwa setiap kepercayaan yang kita emban seharusnya membuat kita semakin tunduk dan berhati-hati, bukan semakin sombong. Ucapan Umar bin Abdul Aziz sesungguhnya menjadi pengingat bahwa perjalanan memikul amanah adalah perjalanan menuju pertemuan dengan Allah, tempat semua keputusan akan dipertanggungjawabkan.

Penulis: adalah Guru Besar dan Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram


0 Komentar