Arisan Sedulur Jawi di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Mataram, Merajut Kembali Relasi Kekeluargaan

Kebersamaan yang indak ketika Arisan Sedulur Jawi di RTH Kota Mataram, 14 Desember 2025

Sedulur Jawi berarti "saudara Jawa" atau "persaudaraan Jawa dalam ikatan kekeluargaan, persaudaraan, dan spiritual yang kuat dalam kebudayaan Jawa, yang semuanya menekankan nilai kebersamaan, kesopanan (unggah-ungguh), dan harmoni. Secara keseluruhan, Sedulur Jawi adalah konsep fundamental dalam kebudayaan Jawa yang melingkupi hubungan keluarga, sosial, dan spiritual yang saling terkait.

BidikNews.net,Mataram - Di banyak keluarga, arisan sering dipandang sekadar agenda rutin: kumpul, setor uang, undian bergilir, lalu pulang. Namun bagi Sedulur Jawi, arisan keluarga sesungguhnya adalah ruang batin—yang merupakan jeda sosial yang pelan-pelan merajut kembali keharmonisan, terutama ketika hubungan kemanusiaan sedang tidak baik-baik saja. Ia bukan hanya soal ekonomi gotong royong, melainkan soal menjaga kemanusiaan agar tetap utuh.

Demikian diungkapkan Prof. DR. H. Maimun Zubair M.Pd ketika mengikuti Arisan Sedulur Jawi yang dilaksanakan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan Kota Mataram Provinsi NTB pada, Minggu,14 Desember 2025.

Diungkapkan Maimun Zubair, dalam kehidupan modern yang serba cepat, relasi keluarga kerap diuji oleh jarak, kesibukan, perbedaan pandangan, bahkan luka-luka kecil yang tak pernah benar-benar dibicarakan."ujarnya.

Ibu-ibu sedulur Jawi berpose bersama di TRH Kota Mataram 
Saudara bisa menjadi asing, dan obrolan sering tereduksi menjadi pesan singkat di grup WhatsApp. Di titik inilah arisan Sedulur Jawi hadir sebagai penawar yang halus—tidak frontal, tidak menghakimi, tetapi bekerja pelan lewat kebersamaan." tutur H. Maimun Zubair.

Ketika arisan digelar, yang pertama hadir bukanlah uang, melainkan kehadiran manusia. Orang-orang datang dengan wajah, cerita, dan perasaan masing-masing. Dalam suasana sederhana—duduk lesehan, kopi panas, jajanan tradisional—jarak emosional yang semula kaku perlahan melunak. Tidak ada tuntutan untuk langsung berdamai, cukup hadir dan saling menyapa." Kata Maimun.

Dalam budaya Jawa, sapaan itu penting: “piye kabare?”, “sehat kabeh?”, pertanyaan-pertanyaan ringan yang sesungguhnya adalah pintu menuju kepedulian." urainya.

Di ruang arisan itulah silaturahmi dirawat, bukan dengan pidato panjang tentang persaudaraan, tetapi lewat gestur kecil: saling menuangkan teh, tertawa bersama, atau diam bersama mendengarkan cerita. Nilai guyub terasa nyata—kebersamaan yang tidak menuntut kesempurnaan, semua diterima apa adanya, dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing." ujarnya.

Bapak-bapak Sedulur Jawi juga berpose bersama di RTH Kota Mataram
Arisan Sedulur Jawi juga menjadi tempat rasa sungkan dilunakkan—dalam budaya Jawa, sungkan sering menjadi tembok yang memisahkan. Tak enak menegur, tak berani bertanya, akhirnya memilih diam dan menjauh. 

Namun arisan sedulur Jawi, dengan ritmenya yang berulang, menciptakan rasa aman. Pertemuan demi pertemuan membuat hati terbiasa, lidah lebih ringan, dan perasaan lebih terbuka. Konflik tidak terasa besar, karena dalam suasana guyub, sering kali mengecil dengan sendirinya.

Lebih dari itu, kata Dekan Fakultas Tarbiyah dan Pendidikan UIN Mataram ini. bahwa arisan sedulur Jawi mempertemukan kembali hati yang sempat menjauh, terkadang tanpa disadari, sekadar duduk dalam satu lingkaran sudah menjadi bentuk rekonsiliasi. Tidak semua luka harus dibahas, tidak semua masalah harus diselesaikan hari itu juga. 

Budaya Jawa memahami bahwa waktu, kebersamaan, dan kesabaran adalah guru terbaik dalam menyembuhkan relasi. Prinsip alon-alon waton kelakon bekerja di sini—pelan-pelan, asal sampai.""katanya.

Sedulur Jawi dengan senyum bahagia dalam bingkai kebersamaan yang indah sembari menikmati udara segar di RTH Kota Mataram
Prof. Maimun Nilai rukun dan tepa selira menjadi roh dari arisan ini. Rukun bukan berarti tanpa perbedaan, melainkan kemampuan untuk hidup berdampingan dengan perbedaan itu. Tepa selira mengajarkan empati: menempatkan diri pada perasaan orang lain, memahami tanpa harus selalu sepakat. Dalam arisan keluarga, nilai-nilai ini tidak diajarkan secara teoritis, tetapi dipraktikkan secara nyata.

Pada akhirnya, arisan Sedulur Jawi adalah ritual sosial yang menjaga kemanusiaan. Ia menjadi pengingat bahwa persudaraan itu merupakan ikatan rasa. Di tengah dunia yang kerap memecah, arisan menghadirkan ruang untuk menyambung. Di tengah relasi yang sedang retak, ia menawarkan kesempatan untuk memperbaiki—pelan, sederhana, dan penuh kebijaksanaan lokal.

Karena itu, arisan sedulur Jawi bukan sekadar pertemuan biasa. Ia adalah upaya sunyi untuk tetap menjadi manusia yang saling menguatkan, merawat harmoni, dan menjaga agar tali persaudaraan tidak putus." Tutup Guru Besar UIN Mataram ini.

Pewarta: TIm


0 Komentar