Kesalehan sering kali diukur dari apa yang tampak: rajinnya seseorang beribadah, fasihnya lisannya melantunkan ayat-ayat al-qur’an, atau konsistennya ia hadir dalam ritual-ritual keagamaan. Namun pertanyaannya sesungguhnya jauh lebih mendalam: untuk siapa semua itu dilakukan? Di titik inilah kesalehan tidak lagi sekadar persoalan lahiriah, melainkan soal batin yang sunyi—tentang keikhlasan.
Hikmah Jum`at, 23 Januari 2026
Refleksi ini mengingatkan kita pada ungkapan seorang legendaris sufi perempuan yang agung, Rabi’ah al-Adawiyah: “Aku ingin membakar surga dan memadamkan api neraka, agar manusia menyembah Allah bukan karena takut neraka atau berharap surga, melainkan karena cinta kepada-Nya semata.”
Pernyataan ini bukanlah penolakan terhadap surga dan neraka, apalagi pengingkaran terhadap ajaran agama. Sebaliknya, ia adalah kritik spiritual yang sangat tajam terhadap kecenderungan manusia menjadikan ibadah sebagai transaksi. Tuhan diposisikan layaknya pemberi hadiah dan hukuman, sementara manusia beribadah dengan kalkulasi untung-rugi.
Seruan Rabi’ah al-Adawiyah—tentang membakar surga dan memadamkan neraka—mengajak kita keluar dari jebakan ibadah yang bersifat transaksional, menuju relasi cinta yang tulus dan jujur. Dalam nada yang sejalan, Imam al-Ghazali menegaskan bahwa ”amal tanpa ikhlas adalah jasad tanpa ruh”: tampak hidup, tetapi hakikatnya mati.
Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan dengan kalimat yang tajam namun menenangkan: “Amal yang lahir dari hati yang ikhlas, meski kecil, akan tumbuh dan berbuah; sementara amal yang lahir dari hati yang tercemar, meski besar, akan kering dan gugur.”
Al-Qur’an sendiri menegaskan prinsip ini ketika menyatakan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah bentuk lahiriah amal, tetapi ketakwaan dan ketulusan di baliknya, ”Lay yanâlallâha luḫûmuhâ wa lâ dimâ’uhâ wa lâkiy yanâluhut-taqwâ mingkum, kadzâlika sakhkharahâ lakum litukabbirullâha ‘alâ mâ hadâkum, wa basysyiril-muḫsinîn.” Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin. (QS. Al-Hajj : 37).
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering—sadar atau tidak—menakar kesalehan dengan ukuran-ukuran yang kasatmata. Semakin banyak amal, semakin panjang doa, semakin sering tampil dalam aktivitas keagamaan, maka semakin dinilai seseorang itu shaleh. Namun Rabi’ah mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah amal itu lahir dari cinta atau sekadar ambisi spiritual?
Ibadah yang dilakukan karena takut neraka atau berharap surga memang sah secara hukum. Namun dalam perspektif tasawuf, itu masih berada pada level spiritualitas paling dasar. Ia belum mencapai maqam keikhlasan sejati. Sebab selama motivasi ibadah masih ditopang oleh imbalan dan ancaman, maka pusat perhatian kita belum sepenuhnya tertuju kepada Allah, melainkan pada diri kita sendiri.
Di sinilah pernyataan Rabi’ah Adawiyah menjadi cermin yang jujur sekaligus menohok, ia menelanjangi motif-motif tersembunyi di balik amal kita, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyadarkan.
Keikhlasan adalah ruh dari setiap amal, tanpa keikhlasan amal itu hanya menjadi gerakan kosong yang kehilangan makna. Sebuah perumpamaan yang sangat indah menggambarkan hal ini adalah, ”amal yang tidak ikhlas bagaikan air yang menetes di atas batu yang licin”.
Air itu mungkin bening, bahkan jernih. Tetesannya mungkin terus-menerus. Namun karena permukaan batu terlalu licin, air itu tidak pernah benar-benar meresap. Ia justru terpental, mengalir pergi, dan meninggalkan batu dalam keadaan yang sama—tak berubah, tak tersentuh.
Berbeda dengan air yang menetes di atas batu yang kasar. Meski perlahan, bahkan nyaris tak terlihat, tetesan itu akan meninggalkan bekas. Ia meresap, mengikis, dan pada akhirnya mengubah bentuk batu tersebut.
Demikian pula amal. Amal yang dilakukan dengan niat yang tercemar oleh riya, ambisi pengakuan, atau perhitungan duniawi, tidak akan membekas di hati. Ia tidak mengubah akhlak, tidak melembutkan jiwa, dan bahkan tidak mendekatkan pelakunya kepada Tuhan. Amal itu mungkin terlihat megah di mata manusia, tetapi kosong di hadirat Allah.
Keikhlasan sejati justru sering tumbuh dalam kesunyian. Ia tidak ribut meminta pengakuan. Ia tidak gelisah jika tak disanjung. Orang yang ikhlas tidak sibuk menghitung amalnya, karena ia sadar bahwa amal bukanlah alat tawar-menawar, melainkan ungkapan rasa cinta.
Di sinilah ungkapan berani dari seorang Rabi’ah Adawiyah menemukan urgensinya—ketika seseorang beribadah karena cinta, ia tidak lagi bertanya: “Apa yang akan aku dapatkan?” melainkan “Apakah Allah ridha?” Fokusnya bergeser dari hasil menuju hubungan, dan dari ganjaran menuju kehadiran Ilahi.
Cinta kepada Allah membebaskan hati dari ketakutan yang berlebihan—takut karena pamrih—dan dari harapan yang semu—harap yang sarat perhitungan. Dalam cinta, ibadah tidak lagi terasa sebagai beban yang harus ditunaikan demi lolos dari hukuman atau demi meraih imbalan, melainkan berubah menjadi kebutuhan batin yang dirindukan. Orang yang beribadah karena cinta tidak lagi sibuk menghitung lelahnya, sebab cinta itu sendiri telah menjadi energinya. Ia beramal sebagaimana seorang pecinta memberi: tanpa merasa rugi, tanpa menagih balasan, dan tanpa merasa sedang berkorban—karena dalam memberi itulah ia justru menemukan kebahagiaan.
Refleksi tentang kesalehan dan keikhlasan sejatinya bukan untuk mengukur orang lain, melainkan untuk menakar diri sendiri. Sebab, bahaya terbesar dalam keberagamaan bukanlah kurangnya amal, melainkan merasa paling ikhlas. Keikhlasan tidak pernah mengklaim dirinya ikhlas—Justru ketika seseorang merasa sudah ikhlas, di situlah keikhlasan mulai tercederai.
Rabi’ah al-Adawiyah tidak sedang mengajarkan kesombongan spiritual, melainkan kerendahan hati yang mendalam. Ia menyadari betapa mudahnya niat tergelincir, betapa licinnya jalan menuju Allah jika dipenuhi ego religius.
Sebagai catatan pinggir, bahwa menakar kesalehan dan keikhlasan sejatinya bukan garis finis yang sekali disentuh lalu usai, melainkan jalan sunyi yang terus dilalui dengan kewaspadaan batin. Setiap amal menuntut kejujuran baru pada niatnya, setiap ibadah memanggil keberanian untuk kembali menanyai motif terdalamnya. Di titik inilah seruan Rabi’ah al-Adawiyah menemukan maknanya: ibadah tidak lagi dipahami sebagai transaksi spiritual—antara pahala dan surga, antara dosa dan neraka—melainkan sebagai relasi cinta yang hening antara hamba dengan Tuhan.
Ukuran nilai di sisi Allah bukanlah semata pada banyaknya amal yang terhimpun, melainkan pada kedalaman cinta yang mendasarinya. Dan barangkali di sanalah kesalehan sejati bersemayam—ketika ibadah tidak lagi sibuk menagih balasan, tetapi menjadi ungkapan rindu yang sunyi—sebab jiwa tidak akan sanggup hidup jauh dari rabb-Nya.
Prof. DR. H. Maimun Zubair, M. Pd :
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam negeri Mataram


0 Komentar