BidikNews.net,NTB - Kehadiran Sarjana Ahli Bencana (Manajemen Bencana/Studi Kebencanaan) di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sangat penting untuk mentransformasi penanganan bencana dari sekadar respons darurat menjadi manajemen berbasis risiko yang ilmiah, terukur, dan profesional.
Keberadaan Sarjana Ahli bencana di lingkup BPBD Provinsi NTB juga diperlukan karena dinilai mampu melakukan pemetaan risiko, kajian kerentanan, dan analisis ancaman secara ilmiah, sehingga dokumen seperti Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) dan Peta Risiko Bencana akurat dan bukan sekadar administratif.
Sarjana Ahli bencana juga dinilai cukup memahami cara mengurangi dampak bencana sebelum kejadian (pra-bencana). Mereka dapat merancang program edukasi publik, zonasi permukiman, dan jalur evakuasi yang efektif.
Dipemerintahan Iqbal Dinda saat ini, Sarjana Ahli bencana nampaknya tidak diperlukan untuk ditugaskan di Badan Penanggulanagna Bencana Daerah (BPBD) pada Bidang Kedaruratan dan Logistik.
Amran, SST, MPSSp merupakan satu-satunya Sarjana Ahli Bencana yang dimilki pemerintah provinsi NTB saat ini. Amran meraih gelar Magister Ahli Bencana setelah Pemerintah Gubernur dan Wakil Gubernur ketika itu mengirimnya untuk menempuh pendidikah khusus di bidang bencana.
Amran pun berhasil membawa pulang gelar sarjana Ahli bencana, sehingga menjadi kebanggaan tersendiri bagi pemerintah provinsi NTB.
Namun di era Kepemimpinan Iqbal Dinda, Seorang Amran selaku Sarjana Ahli bencana di Lingkup pemprov NTB hanya dijadikan sebagai lambang bahwa NTB miliki Sarjana Ahli bencana, tetapi tak dimanfaatkan dengan baik sesuai bidang keahliannya.
Amran bersama ASN lainnya mencoba mengadu nasib untuk mendapatkan jabatan di Bidang Kedaruratan dan Logistik pada Badan penanggulangan bencana daerah Provinsi NTB, akan tetapi Gubernur Miq Iqbal dan wagub Umi Dinda lebih memilih sarjana Tehnik ketimbang Sarjanja Ahli bencana untuk menduduki Jabatan kabid tersebut.
Apa yang diidamkan Amran untuk menduduki Jabatan di Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD NTB itu bukan tanpa alasan. Sejak bertugas di Dinas Sosial 1997Amran sudah bergelut dengan bencana dan pengungsi.
Ketika Bencana Gempa melanda pulau Lombok 2018 Amran saat itu ditugaskan sebagai koordinator dapur umum lapangan untuk melayani para korban bencana.
Selain itu Amran juga didaulat sebagai Pembina TAGANA terbaik Nasional sehingga nama besar Provinsi NTB menggema diseluruh nusantara. Pembina TAGANA terbaik Nasional itu di dianugerahkan kepada Gubernur NTB, berturut-turut, 2017 dan 2018.
Ditugaskan sebagai Koordinator Dapur Umum Lapangan ketika Lombok Ddilanda bencana Gempa
Belum lagi seabrek sertifikat dan piagam penghargaan yang berhubungan dengan pelatihan kebencanaan diterima Amran dari berbagai lembaga pemerintahan.
Amrtan mengaku dirinya ditugaskan untuk belajar sesuai dengan analisi kebutuhan daerah dari tahun 2009 sd 2016 tanpa jeda guna pemenuhan kebutuhan daerah yang saat itu sangat membutuhkan tenaga khusus dalam kebencanaan.
Amran menjalani itu dengan harapan ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama bertugas bisa ia tularkan jika Gubernur NTB memerlukn sarjana ahli Bencana. Namun Gubernur NTb lebih memilih sarjana tehnik ketimbang Amran satu-satunya sarjana Ahli bencana yang dimiliki Pemprov NTB.
Penanganan kedaruratan dan Logistik dalam ilmu kebencanaan tidak memerlukan sarjana tehnik, karena didalam mengelola logistik sangat terkait dengan ilmu sosial dan kemasayarakatan, sehingg diperlukan Ahli Bencana seperti Amran sebagai satu-satunya ASN Ahli bencana yang dimiliki Pemprov NTB.
Kini Amran harus menerima takdir untuk menjalani tugas sebagai kepala seksi di Balai latihan Koperasi Provinsi NTB. Jabatan di Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD sesuai dengan keahlian yang dimilikinya tidak berpihak padanya.
“Barangkali Allah punya rencana lain untuk saya Bang,? Saya tetap istiqamah melaksanakan amanah dimanapun ditugaskan,” kata Amran kepada media ini dengan nada datar.
Meski demikian Amran berkeyakinan bahwa sebagai Sarjana di Bidang Bencana dirinya sangat memahami bagaimana mengoordinasikan bantuan logistik, penyelamatan, dan perlindungan kelompok rentan dengan cepat dan tepat, sehingga meminimalisir risiko jatuhnya korban lebih banyak.
Amran juga mengisahkan perjalanannya sebagai Sarjana Ahli bencana ketika mendampingi H. Amir, S. Pd yang menjabat sebagai Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial sekaligus Plt Kabid Perlinduungan dan jaminan Sosial pada Dinas Sosial Provinsi NTB untuk berangkat ke Papua tahun 2013 ketika peristiwa berdarah melanda Kabupaten Wamena.
Amran, bersama aparat polisi dan TNI serta pemerintah saat melakukan penyelamatan dan pemulangan 200 lebih warga NTB yang terjebak dalam tragedi berdarah di Wamena Papua tahun 2019
Mengingat Amran merupakan satu-satunya Sarjana bencana yang dimilki Pemprov NTB Ia ditugaskan oleh atasannya untuk mendampingi salah satu Kepala Bidang pada Dinas Sosial NTB untuk menyelamatkan sekitar lebih dari 200 warga asal NTB yang mengunsi keluar dari Wamena akibat tragedy berdarah tahun 2013 itu.
Usaha Dipolmasi H. Amir bersama Amran pun berhasil ditunaikan dengan sukses. Sebanyak 210 orang warga NTB yang bermukim di Wamena dipulangkan dalam keadaan selamat.
Tugas suci dalam sebuah misi kemanusiaan dilaksanakan oleh Amran bersma H. Amir meski harus mengahadapi kerasnya situasi dan kondisi di Wamena yang ketika itu diliputi rasa takut yang mencekam.
Sebagai Sarjana Ahli bencana situasi mencekam itu dapat ia hadapi bersama H. Amir dan dibantu oleh pateugas dan aparatt TNI dan Polisi yang bertugas diwilayah itu.
Begitulah sepenggal kisah seorang Ahli Bencana yang dimilki Pemprov NTB, akan tetapi tak laku di kabinet Gubernur HL. Muhammad Iqbal dan Wakil Gubernur Hj. Indah Damayanti Putri.
Untuk menjalankan roda pemerintahannya, Miq Iqbal dan Umi Dinda lebih memilih bukan ahlinya dibidang itu ketimbang Sarjana Ahli bencana untuk berada di Badan Penanggulangan bancana daerah Provinsi NTB.
Pewarta: Dae Ompu

0 Komentar