![]() |
| Hikmah Jum`at, 20 Pembruari 2026 |
ADA satu kenyataan spiritual yang jarang disadari, bahwa Iblis tidak selalu menggoda manusia untuk meninggalkan ibadah. Dalam banyak kasus, ia justru membiarkan manusia rajin beribadah—bahkan mendorongnya, namun iblis kemudian membisikkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya, yakni ”rasa bangga diri”.
Dalam konteks puasa, Iblis tidak membisikkan, “Jangan berpuasa.” Ia justru membiarkan kita berpuasa penuh, tarawih lengkap, tadarus khatam. Tetapi kemudian ia berbisik, “Lihat, puasamu paling baik. Kamu lebih sungguh-sungguh dari yang lain.” Di situlah letak bahaya yang sesungguhnya.
Yusuf al-Qaradawi pernah mengingatkan bahwa penyakit riya’ dan ujub adalah penyakit yang sangat halus dan sering menyusup ke dalam amal saleh tanpa disadari pelakunya. Amal yang besar bisa kehilangan nilainya hanya karena hati tidak bersih. Puasa yang semestinya menjadi rahasia antara hamba dan Tuhannya berubah menjadi panggung pembuktian diri. (Baca dan renungkan QS. Al-Baqarah ayat 264).
Puasa adalah ibadah paling sunyi, sebagaimana didalam hadis qudsi disebutkan bahwa puasa itu “untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Justru karena sifatnya yang sangat personal, Iblis berusaha merusaknya dari dalam. Ia tidak merusak bentuknya, tetapi niatnya. Ia tidak membatalkan puasanya, tetapi mengurangi nilainya. Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita rajin berpuasa, tetapi hati kita sibuk membandingkan, menilai, bahkan meremehkan orang lain.
Puasa sering kali dipenuhi harapan—agar doa dikabulkan, agar rezeki dilapangkan, agar karier meningkat, agar jodoh mendekat. Tidak salah berharap kebaikan, namun ada satu kedalaman spiritual yang lebih tinggi, yakni berpuasa tanpa syarat. Berpuasalah karena Allah, bukan karena ingin sesuatu.
Quraish Shihab menjelaskan bahwa inti ibadah dalam Islam adalah ketundukan total kepada Allah, bukan transaksi kepentingan. Ketika seseorang beribadah dengan pola pikir transaksional—“Saya berpuasa agar mendapat ini dan itu”—ia sedang mereduksi ibadah menjadi semacam kontrak keuntungan. Padahal Allah sendiri merahasiakan pahala puasa, Ia tidak menyebut angka, tidak menyebut ukuran, tidak pula menyebut bentuk balasan. Mengapa? Karena puasa bukan tentang imbalan yang terukur, melainkan tentang kedekatan yang tak terhitung.
Maka jangan “mencuri start” dengan menargetkan imbalan tertentu. Jangan mengukur puasa dengan ekspektasi duniawi. Jangan berkata dalam hati, “Saya sudah puasa penuh, mestinya hidup saya lebih mudah.” Ingatlah bahwa ibadah itu bukan tombol otomatis yang langsung mengubah keadaan.
Puasa bukan jaminan hidup bebas masalah, melainkan proses pembentukan jiwa. Karena bisa jadi justru ujian yang datang setelah kita berpuasa adalah cara Allah menguatkan, mematangkan, dan mendekatkan kita kepada-Nya—sebuah bentuk cinta yang lebih dalam, meski terasa berat.
Puasa adalah latihan melepaskan; melepaskan lapar, melepaskan ego, melepaskan keinginan untuk diakui, bahkan melepaskan keinginan untuk dihitung. Jika Allah merahasiakan pahala puasa, mengapa kita tergesa-gesa ingin mengetahuinya?
Salah satu penyakit sosial yang sering muncul di bulan Ramadhan adalah budaya membandingkan. Siapa yang paling rajin ke masjid? Siapa yang tidak pernah terlihat? Siapa yang tadarusnya paling banyak? Siapa yang hanya puasa “biasa saja”? Tanpa sadar, kita mulai menjadi evaluator spiritual bagi orang lain.
Padahal kita tidak pernah tahu perjuangan batin seseorang, bisa jadi orang yang jarang terlihat di majelis ibadah sedang bergulat dengan ujian hidup yang berat. Bisa jadi ia sedang berpuasa dalam sunyi, dalam air mata, dalam kesepian yang tak pernah ia ceritakan.
Ketahuilah bahwa Allah tidak melihat kuantitas amal semata, tetapi kualitas hati di baliknya. Satu amal kecil dengan hati yang tulus bisa lebih besar nilainya dibanding amal besar yang disertai kesombongan.
Maka jangan pernah mengabsen kehadiran orang lain di majelis-majelis ibadah. Jangan berkata, “Kok dia tidak pernah tarawih?” atau “Sepertinya puasanya tidak serius.” Karena kalimat-kalimat semacam itu bukan saja menyakiti sesama, tetapi juga menggerogoti pahala dari ibadah kita sendiri.
Puasa bukan lomba, bukan kompetisi sosial, namun dialog sunyi antara hamba dan Tuhannya. Dan dalam dialog itu, tidak ada panggung, tidak ada penonton, tidak pula ada juri selain Allah.
Ingatlah, bahwa semakin kita sibuk mengevaluasi orang lain, maka akan semakin sempit ruang yang tersisa untuk mengevaluasi diri sendiri. Padahal Ramadhan datang justru untuk muhasabah—bukan untuk menghakimi.
Marilah kita berpuasa murni karena Tuhan, bukan karena ingin dipuji, dan bukan pula karena ingin dianggap saleh, bukan karena ingin masuk dalam kategori “orang baik” di mata manusia, dan bahkan bukan semata-mata karena takut neraka atau ingin surga.
Dalam Islam, penting mengedepankan keikhlasan sebagai ruh ibadah, karena tanpa ikhlas, ibadah hanya gerakan lahiriah. Dengan ikhlas, maka ibadah akan menjelma menjadi cahaya batin.
Ikhlas itu sunyi, tidak butuh pengakuan, apalagi pembanding. Ia tidak mencari validasi, akan tetapi cukup dengan satu hal—”ridha Allah”. Ketika kita berpuasa karena Allah, maka lapar menjadi nikmat, haus menjadi pelajaran, dan ujian menjadi penguat. Bahkan jika tidak ada yang tahu bahwa kita sedang berjuang, kecuali Allah, maka itu sudah lebih dari cukup.
Sebaliknya, jika kita berpuasa karena ingin dilihat, ingin dianggap paling saleh, maka kita akan mudah kecewa, mudah tersinggung jika tidak dipuji, dan bahkan mudah merasa lebih tinggi dari orang lain. Di situlah puasa kehilangan kemurniannya. (Baca dan renungkan QS. An-Najm ayat 32).
![]() |
| Tadarus Al Qur`an di bulan Ramadhan |
Sebab bisa jadi, yang membatalkan pahala puasa bukanlah seteguk air, melainkan setitik kesombongan.
Sebagai catatan pinggir, bahwa puasa sejati bukan sekadar menahan diri dari yang halal pada siang hari, tetapi menahan hati dari merasa lebih baik dari orang lain, bukan pula tentang siapa yang paling rajin, tetapi siapa yang paling tulus.
Biarlah puasa kita menjadi rahasia antara kita dan Allah. Jangan dipamerkan—apalagi bandingkan. Jika kita ingin menilai sesuatu, nilailah diri sendiri—sudahkah hati ini bersih? Sudahkah niat ini lurus?
Berpuasalah dengan ikhlas, tanpa embel-embel, tanpa target tersembunyi, tanpa membandingkan, dan tentunya tanpa mengevaluasi orang lain. Karena pada akhirnya, amalan yang paling diterima Allah bukanlah yang paling terlihat, tetapi yang paling tulus.
Prof. DR. H. Maimun Zubair adalah Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri – UIN Mataram



0 Komentar