Mencubit Diri Untuk Berderma, Oleh : H. Muhammad Irwan


Manusia diciptakan dengan tujuan agar dapat melakukan pengabdian atau beribadah kepada Sang Penciptanya. Pengabdian yang dilakukan dengan sepenuh hati, bukan separuhnya, bukan pula sesuai dengan kehendak manusia sendiri. 

PERINTAH untuk mengabdi dan beribadahnya agar menjadi insan yang bertakwa,  merupakan  suatu kondisi yang menjadi indicator berkualitas dan tidak berkualitasnay manusia, suatu kondisi yang menjadikan manusia takwa memiliki derajat yang lebih baik di sisi Allah dibanding dengan manusia yang tidak bertakwa.

Insan yang bertaqwa adalah insan yang selalu menjalankan seluruh perintah Allah baik yang wajib maupun sunah. Insan yang  selalu untuk meningkatkan kualitas dan kuantitasnya dari waktu ke waktu. Insan yang selalu menjaga diri dan keluarganya dari jebakan nafsu yang mencelakakan perjalanan hidup. Insan yang selalu menyampaikan apa yang diketahuinya tentang kebaikan meskipun hanya sedikit. 

Insan yang selalu mengingatkan sesama agar tidak larut dan hanyut dalam perbuatan yang bergelimang dosa. Insan yang selalu sabar menghadapi bantahan dan tantangan dari berbagai pihak yang tidak senang dengan apa yang diucapkan dan dilakukannya. Semuanya dijalani dengan tabah dan penuh kesyukuran, karena mampu menjalankan dan menyebarkan syariat agama  islam. 

Ciri orang yang bertakwa sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah surat Al-Baqarah ayat 3 salah satunya adalah orang yang menafkahkan sebahagian  rejeki yang Allah anugerahkan kepada  mereka. 

Makna  menafkahkan sebagian rezki, ialah memberikan sebagian dari harta yang telah direzkikan oleh Tuhan kepada orang-orang yang disyari'atkan oleh agama memberinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain. Insan yang sering menafkahkan harta dari beberapa jenis kegiatan tersebut digolongkan sebagai orang yang beruntung.

Menafkahkan  rejeki baik berupa harta maupun uang bagi orang yang sering melakukannya merupakan salah satu jenis aktivitas berderma. Berderma merupakan bagian yang penting dalam ajaran Islam, karena umat islam  tidak terbaikan, tidak bercerai berai, tidak berdiri sendiri, merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan satu dengan lainnya. 

Berderma merupakan ciri yang melekat dalam diri manusia yang memiliki tingkat keimanan dan ketakwaan yang tinggi. Kedermawanan hadir tanpa dibumbui dengan embe-embel  yang merusak nilai kedermawanan itu sendiri. Kedermawanan hadir karena adanya kesadaran yang tinggi, bahwa apa yang tengah dipegang, dimiliki dan menjadi kekuasaanya merupakan titipan dan amanah,  ada  di antaranya milik orang lain yang harus didistribusikan dan disalurkan  dengan cara dan sasaran yang tepat. 

Kedermawanan hadir karena adanya keikhlasan, bukan karena paksaan setelah adanya bujukan dan rayuan, terlebih diikuti kengingan untuk disanjung dan dipuji (riya). Ikhlas bermakna mengarahkan seluruh amal perbuatan semata-mata hanya untuk Allah bukan kepada yang lain. Ikhlas adalah menghadapkan seluruh amal batiniah dan lahiriah hanya kepada  Allah. Orang sering berderma, karena adanya motivasi dari ayat-ayat Allah yang memberikan balasan pahala yang berlimpah bagi dermawan. 

Salah satunya  adalah terdapat dalam surat  Al-Baqarah 245 yang artinya : “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (mendermakan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”.

Salah satu hadis Rasulullah tentang berderma yang artinya : "Tidak akan berkurang sedekah yang diberikan seseorang, dan Allah tidak akan menambah pemberian hamba-Nya dengan pemaafan kecuali menambah keagungan. Dan barangsiapa merendahkan diri di hadapan Allah, maka Allah akan meninggikan derajatnya." (HR. Muslim).

Orang yang dermawan terus memotivasi dan mencubit dirinya untuk terus berderma, menafkahkan harta dan rejekinya untuk saudara yang membutuhkan. Ia akan terus berupaya memenangkan peperangan melawan nafsu yang melarang untuk berderma. Ia tidak mau digiring oleh nafsu menjadi orang yang kikir dan pelit. Ia mencubit dirinya untuk terus memusatkan perhatiannya untuk kemaslahatan dirinya orang lain. Ia tidak ingin terbelenggu dengan menggenggam harta berlimpah tanpa didistribusikan. Ia terus membersihkan jiwanya dari penyakit rohani yang melekat sangat lengket dalam tubuhnya. Ia ingin membebaskan semuanya itu dengan berderma.

Orang yang dermawan ingin menghilangkan dalam dirinya dari sifat egoistis, popularitas dan disanjung di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Ia menempatkan  dirinya untuk menjadi orang yang memberi manfaat kepada orang lain seberapapun jumlahnya. Ia tidak mau menjadi golongan orang yang menyesal dan meminta kembali hidup lantaran tidak berderma dan membelanjakan hartanya di jalan Allah. Ia selalu berikhtiar untuk memberi bantuan  kepada saudara-saudara yang tidak mampu dari berbagai dimensi kehidupan. 

Dermawan  terus mencubit dirinya , meskipun terasa sakit, 
Dermawan terus memukul jari tangan yang enggan memberi, 
Dermawan memaksakan membuka tangan yang hoby menggenggam,
Dermawan mengobati  mata dari gelapnya melihat penderitaan suadara, 
Dermawan terus mengorek telinga dan kupingnya,  untuk mendengar,
Aneka irama rintihan dan jeritan orang yang menderita kekurangan dan musibah.

Insan yang sering mencubit diri untuk berderma, sadar berderma itu merupakan salah satu benteng ketahanan diri dan social. Benteng itu tidak akan roboh meskipun goncangan gempa yang kuat, karena adanya kekuatan yang menyatu saling menopang. 

Insan yang selalu tergerak untuk berderma, sadar bahwa perbuatan tersebut merupakan ikhtiar untuk secara bersama menjinjing yang berat supaya ringan, agar tidak jatuh menimpa sebagian orang, sedangkan yang lain memandang dan membiarkannya tertindas. 

Penulis: Ketua Umum Rukun Keluarga Bima Pulau Lombok (RKBPL)



0 Komentar