ADA satu bentuk penyesalan yang jarang dibicarakan, tetapi diam-diam tumbuh dalam kehidupan banyak orang. Penyesalan itu bukan karena pernah melakukan kesalahan, bukan pula karena pernah terjerumus ke dalam dosa.
Penyesalan itu justru lahir karena pernah berbuat baik. Kalimat seperti, “Menyesal saya membantu dia,” “Kalau tahu akhirnya begini, dulu saya tidak akan memperjuangkannya,” atau “Seandainya waktu bisa diputar, saya tidak akan pernah memberinya kesempatan,” Kalimat-kalimat ini bukanlah ungkapan yang asing di telinga kita. Hampir setiap orang pernah mengucapkannya atau setidaknya pernah mendengarnya.
Sekilas, kalimat-kalimat itu terdengar sangat wajar, namun jika direnungkan lebih dalam, sesungguhnya patut kita waspadai, bahwa kita kadang merasa kecewa karena kebaikan yang diberikan tidak mendapatkan balasan yang sesuai harapan. Kita merasa dikhianati, dimanfaatkan, atau bahkan merasa tidak dihargai oleh orang yang pernah kita tolong. Namun jangan sampai rasa kecewa itu membuat kita menghapus nilai kebaikan yang pernah kita lakukan.
Kita hidup di tengah masyarakat yang sering mengukur segala sesuatu dengan logika timbal balik. Kebaikan dianggap berhasil apabila dibalas dengan kebaikan. Pertolongan dianggap bernilai apabila melahirkan rasa terima kasih. Pengorbanan dianggap berarti apabila dikenang sepanjang masa. Ketika semua itu tidak terjadi, kita merasa telah melakukan sesuatu yang sia-sia. Padahal, boleh jadi yang sesungguhnya mengecewakan kita bukanlah kebaikan yang pernah kita lakukan, melainkan harapan yang diam-diam kita titipkan di dalamnya.
Harapan adalah bagian dari sifat manusia. Tidak ada yang salah dengan berharap. Akan tetapi, ketika harapan berubah menjadi syarat tersembunyi dalam setiap kebaikan, maka saat itulah ketulusan mulai kehilangan maknanya. Kita mungkin tidak pernah meminta balasan secara langsung, tetapi di sudut hati yang paling sunyi, kita berharap orang yang pernah kita bantu akan selalu mengingat jasa kita, akan selalu berpihak kepada kita, atau setidaknya tidak menjadi orang yang menyakiti kita. Ketika kenyataan tidak berjalan sesuai harapan, lahirlah rasa kecewa yang perlahan berubah menjadi penyesalan.
Ada sebuah kisah hikmah yang sering diceritakan oleh para sufi. Suatu hari, seorang sufi melihat seekor kalajengking yang hampir tenggelam di sungai. Ia mengulurkan tangannya untuk menyelamatkannya. Namun, setiap kali diangkat, kalajengking itu justru menyengat tangannya hingga berdarah. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu merasa heran. Mereka bertanya, “Mengapa engkau terus menolongnya, padahal ia terus menyakitimu?” Sang sufi tersenyum lalu menjawab, “Jika menyengat adalah tabiatnya, mengapa aku harus kehilangan tabiatku untuk menolong hanya karena disengat olehnya?”
Jawaban itu sederhana, tetapi menyimpan kebijaksanaan yang luar biasa. Sering kali kita membiarkan perilaku buruk orang lain menentukan kualitas akhlak kita sendiri. Kita menjadi pelit karena pernah ditipu. Kita menjadi keras karena pernah dikhianati. Kita menjadi curiga kepada semua orang karena pernah dimanfaatkan oleh satu orang. Padahal setiap manusia bertanggung jawab atas karakternya sendiri. Keburukan orang lain tidak pernah menjadi alasan yang sah untuk membunuh kebaikan di dalam hati kita.
Pemikiran yang serupa dapat ditemukan dalam filsafat Stoa yang dikembangkan Marcus Aurelius. Kaisar Romawi itu pernah menulis, bahwa pohon tidak pernah meminta ucapan terima kasih setelah menghasilkan buah. Matahari tidak pernah memilih kepada siapa ia akan memancarkan cahayanya. Sungai tidak pernah menghentikan alirannya hanya karena ada orang yang mengotori airnya. Alam (termasuk manusia) bekerja sesuai kodratnya, ketika kita berbuat baik, sesungguhnya kita sedang menjalankan kodrat kemanusiaan kita. Jika setelah itu kita sibuk menghitung balasan, maka kebaikan telah berubah menjadi transaksi.
Dalam tradisi Islam, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa keikhlasan adalah keadaan ketika amal tidak lagi bergantung pada pujian maupun celaan manusia. Amal yang ikhlas lahir dari kesadaran bahwa tujuan akhirnya adalah Allah, bukan penilaian manusia. Karena itu, orang yang benar-benar ikhlas tidak akan merasa miskin hanya karena jasanya dilupakan. Ia memahami bahwa penghargaan manusia bersifat sementara, sedangkan nilai sebuah amal melekat di sisi Tuhan Yang Maha Mengetahui setiap niat yang tersembunyi di dalam dada.
Hamka pernah menulis, bahwa kekecewaan memang tidak bisa dihindari, tetapi membiarkan kekecewaan menetap terlalu lama sama artinya dengan menyerahkan kemerdekaan batin kepada orang yang telah menyakiti kita. Kita mungkin tidak dapat mengendalikan sikap orang lain, tetapi kita selalu memiliki kebebasan untuk menentukan siapa diri kita setelah peristiwa itu terjadi.
Pemikiran tersebut menemukan gaungnya dalam pengalaman Viktor Frankl, seorang psikiater yang bertahan hidup di kamp konsentrasi Nazi. Setelah menyaksikan begitu banyak penderitaan, ia sampai pada satu kesimpulan penting, bahwa kebebasan terakhir manusia adalah memilih sikap terhadap apa pun yang dialaminya. Orang lain boleh merampas harta, jabatan, bahkan kehormatan kita. Mereka boleh membalas kebaikan dengan pengkhianatan. Namun, mereka tidak pernah dapat merampas keputusan kita untuk tetap menjadi manusia yang baik.
Pada akhirnya, setiap kebaikan yang kita lakukan sesungguhnya lebih banyak membentuk diri kita daripada mengubah orang lain. Ketika kita menolong, kita sedang melatih diri untuk empati. Ketika kita memberi, kita sedang mendidik jiwa kita agar tidak dikuasai keserakahan. Ketika kita memaafkan, kita sedang memperluas ruang hati kita untuk menerima kehidupan apa adanya. Orang yang kita bantu mungkin lupa, tetapi karakter yang tumbuh dalam diri kita akan tetap menempel sepanjang hayat. Itulah investasi yang tidak pernah mengalami kerugian.
Barangkali inilah alasan mengapa orang-orang bijak tidak pernah menyesali kebaikan yang telah mereka lakukan. Mereka memahami bahwa kebaikan bukanlah tentang bagaimana orang lain memperlakukan mereka, melainkan tentang siapa diri mereka sebenarnya. Sebab apabila satu pengkhianatan mampu membuat kita berhenti berbuat baik, berarti yang kalah bukanlah orang yang mengkhianati kita, melainkan hati kita sendiri.
Sebagai catatan pinggir, jika suatu hari kita kembali tergoda untuk berkata, “Menyesal saya pernah membantu dia,” berhentilah sejenak. Mungkin yang perlu kita sesali bukanlah kebaikan itu, melainkan harapan yang terlalu besar kepada manusia. Sebab manusia bisa lupa, bias berubah, bahkan bisa menyakiti. Akan tetapi, setiap kebaikan yang dilakukan dengan hati yang tulus tidak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin tidak kembali melalui orang yang pernah kita bantu. Akan tetapi ia mungkin akan datang melalui jalan yang tidak pernah kita duga.
Pada akhirnya, yang akan dikenang oleh sejarah bukanlah berapa banyak orang yang membalas kebaikan kita, melainkan apakah kita tetap menjadi manusia yang baik ketika dunia memberi begitu banyak alasan untuk berubah. Itulah kemuliaan yang sesungguhnya.
"Kebaikan tidak pernah salah alamat; ia selalu menemukan jalannya pulang, bukan hanya kepada orang yang menerimanya, tetapi terutama kepada jiwa yang dengan tulus menanamkannya."
Prof. H. Maimun, M.Pd : Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram

0 Komentar