Semangat pengabdian itulah yang dibawa oleh 28 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang melaksanakan KKN di Dusun Pancen Pandan, Desa Wonocepokoayu, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
Kehadiran mereka menjadi bagian dari ikhtiar mempertemukan dunia akademik dengan kehidupan masyarakat melalui berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, keagamaan, sosial, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Sebanyak 28 mahasiswa UMM yang mengikuti kegiatan KKN tersebut adalah Febriansyah Surya Ar Rafi, Gabriel Akmal Dzaki, Ginda Zaura Finanda, Maharani Nadya Syahril, L. M. Rizki Bahtiar, Hani Damayanti, Indi Zummah Sang Soja, Kaysa Taqiyah Auliya’, Azzahra Rahma Assyifa, Keishya Aliffia Mashudi, Siti Aulina Ramadhani, Meutya Nadjwa Zhaliyanti, Maulana Bintang Tatas, Lira Alvexia Khana, Nabila Ramadhani, Eva Hidayati, Faris Fauzan Dhia Urrahman, Muhammad Naufal Al Gifari, Itsna Nur Fadilah, Ika Yunita Rahmadani, Shofiyah Waldani, Satriya Maulana Ishaq, Muhammad Ariel Syaputra, Muhammad Rizkillah, Juan Ananda Putra Setiawan, Muhammad Fahrizzal Adrian Luckyansyah, Faiz Arridha Djamaluddin, dan Hafizh Fadhillah.
Bagi mahasiswa UMM, KKN bukan sekadar pelaksanaan kewajiban akademik. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menghadirkan ilmu di tengah masyarakat sekaligus mendapatkan pembelajaran yang tidak selalu diperoleh di ruang perkuliahan. Kehidupan masyarakat menjadi laboratorium sosial tempat mahasiswa belajar tentang kepedulian, kebersamaan, kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan menyelesaikan persoalan secara kolaboratif.
Berbagai program disiapkan selama mahasiswa berada di lokasi KKN. Program tersebut dirancang menyentuh kebutuhan masyarakat sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi secara lebih dekat dengan warga.
Di bidang kesehatan, mahasiswa terlibat dalam kegiatan Posyandu. Keterlibatan ini menjadi wujud kepedulian terhadap kesehatan masyarakat sekaligus kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung bagaimana kegiatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat dilaksanakan.
Sementara di bidang pendidikan, mahasiswa UMM hadir di SDN 02 Wonocepokoayu dan TPQ untuk melaksanakan kegiatan mengajar. Kehadiran mereka diharapkan dapat memberikan warna baru dalam proses pembelajaran, menambah pengalaman peserta didik, serta menumbuhkan semangat belajar di kalangan anak-anak.
Bagi mahasiswa, pengalaman mengajar di tengah masyarakat juga menjadi proses pembelajaran yang sangat berarti. Mereka belajar menghadapi karakter peserta didik yang beragam, menyampaikan materi dengan cara yang komunikatif, serta memahami bahwa pendidikan membutuhkan kesabaran, keteladanan, kreativitas, dan ketulusan.
Di bidang keagamaan, mahasiswa turut mengambil bagian dalam kegiatan menghias masjid. Kegiatan sederhana ini memiliki makna sosial yang kuat karena masjid merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya membantu memperindah lingkungan tempat ibadah, tetapi juga membangun kedekatan dan kebersamaan dengan warga.
Semangat kebangsaan juga menjadi bagian dari rangkaian pengabdian. Mahasiswa mengadakan lomba 17 Agustus di SDN 02 Wonocepokoayu. Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk merayakan kemerdekaan dengan penuh kegembiraan sekaligus menumbuhkan nilai sportivitas, kebersamaan, kreativitas, dan kecintaan terhadap tanah air.
Kontribusi mahasiswa juga diarahkan pada lingkungan dan fasilitas desa melalui kegiatan pembuatan pembatas desa. Program tersebut menunjukkan bahwa pengabdian tidak harus selalu hadir dalam bentuk kegiatan besar. Hal-hal sederhana yang menjawab kebutuhan masyarakat pun dapat menjadi bagian penting dari pengabdian apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.
Yang menarik, mahasiswa UMM juga mengembangkan program yang berkaitan dengan lingkungan dan kreativitas masyarakat. Salah satunya adalah pembuatan pupuk organik yang kemudian disosialisasikan kepada warga. Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus upaya memperkenalkan pemanfaatan bahan organik kepada masyarakat.
Program lainnya adalah pembuatan lilin aromaterapi yang disosialisasikan kepada masyarakat. Kegiatan tersebut menunjukkan kreativitas mahasiswa dalam mengembangkan keterampilan yang dapat diperkenalkan kepada warga. Di balik kegiatan sederhana itu terdapat pesan penting bahwa lingkungan sekitar dan kreativitas dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus peluang untuk dikembangkan lebih lanjut.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa KKN merupakan proses yang bersifat dua arah. Mahasiswa datang membawa ilmu dan gagasan, tetapi pada saat yang sama mereka juga belajar dari masyarakat. Mereka belajar tentang kearifan lokal, kehidupan sosial, kebersamaan, kerja keras, serta berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat memperoleh energi baru dari kehadiran generasi muda kampus. Interaksi antara mahasiswa dan warga diharapkan tidak berhenti pada selesainya program KKN, tetapi meninggalkan pengalaman, pengetahuan, dan semangat kebersamaan yang dapat terus berkembang.
Bagi mahasiswa UMM, Wonocepokoayu menjadi ruang belajar yang sesungguhnya. Setiap kegiatan mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan memiliki makna yang lebih luas ketika mampu diterjemahkan menjadi tindakan. Mengajar anak-anak, membantu Posyandu, menghias masjid, menyelenggarakan kegiatan kemerdekaan, membuat pembatas desa, mengenalkan pupuk organik, hingga berbagi keterampilan membuat lilin aromaterapi merupakan rangkaian pengalaman yang memperkaya proses pendidikan mereka.
Pada akhirnya, KKN bukan sekadar tentang berapa banyak kegiatan yang berhasil dilaksanakan. Lebih penting dari itu adalah jejak manfaat yang ditinggalkan dan pengalaman yang dibawa pulang oleh mahasiswa.
KKN mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang di Wonocepokoayu menjadi gambaran bahwa kampus dan masyarakat dapat tumbuh melalui hubungan yang saling menguatkan. Mahasiswa hadir untuk belajar, masyarakat menjadi ruang pembelajaran, dan ilmu pengetahuan menemukan bentuk nyatanya dalam pengabdian.
Mereka datang sebagai mahasiswa, tetapi pulang dengan pengalaman sebagai bagian dari masyarakat. Sebab, ilmu yang paling berharga bukan hanya ilmu yang mampu menjawab soal di ruang ujian, melainkan ilmu yang mampu menyentuh kehidupan, menghadirkan manfaat, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi sesama.
Pewarta: TIM



0 Komentar