Kejuaraan Dunia BWF 2026 yang diselenggarakan di Indira Gandhi Stadium, New Delhi pada 17–23 Agustus 2026 akhirnya memberikan satu medali bagi Indonesia melalui pasangan ganda campuran Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah.
DATANG sebagai pasangan non unggulan dan berada di peringkat 20 dunia, pencapaian Amri/Nita tentu patut diapresiasi. Mereka menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang mampu menembus semifinal dan bahkan memberikan perlawanan ketat hingga gim penentuan. Namun, di balik medali perunggu tersebut, ada catatan yang tidak boleh diabaikan.
Indonesia datang ke Kejuaraan Dunia dengan sejumlah pemain yang memiliki ekspektasi tinggi. Fajar Alfian/M. Shohibul Fikri berstatus unggulan kedua di ganda putra dan berada di peringkat dua dunia. Selain itu, ada Jonathan Christie yang berada di peringkat tiga dunia serta Putri Kusuma Wardhani di peringkat enam dunia. Sayangnya, Fajar/Fikri harus terhenti di perempat final, sementara Jonathan Christie, Putri Kusuma Wardhani, dan wakil Indonesia lainnya juga gagal melangkah ke fase perebutan medali.
Pada akhirnya, ketika negara lain mampu menempatkan lebih banyak wakilnya di fase-fase akhir dan Indonesia hanya menyisakan satu pasangan di semifinal, pertanyaannya bukan sekadar “mengapa Indonesia tidak juara?”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa kuat sebenarnya kedalaman skuad bulu tangkis Indonesia saat ini?
Amri/Nita justru memberikan sisi positif dari situasi tersebut. Mereka membuktikan bahwa Indonesia masih memiliki pasangan yang mampu bersaing dengan pemain-pemain terbaik dunia. Kekalahan tipis dari pasangan nomor satu dunia Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping (Tiongkok) dengan skor 22-20, 14-21, 20-22 menunjukkan bahwa jarak Indonesia dengan elite dunia sebenarnya tidak terlalu jauh.
Yang menjadi persoalan adalah bagaimana menjadikan potensi tersebut sebagai konsistensi.
Fajar/Fikri yang tersingkir di perempat final bukan berarti gagal sebagai atlet. Begitu pula dengan wakil Indonesia lainnya. Dalam olahraga, kekalahan merupakan bagian dari kompetisi. Namun, ketika hasil sebuah turnamen sebesar Kejuaraan Dunia menunjukkan sebagian besar wakil Indonesia gagal mencapai podium tertinggi, tentu ada sesuatu yang perlu dievaluasi.
Evaluasi tersebut tidak seharusnya diarahkan semata-mata kepada atlet. Yang perlu dilihat adalah gambaran yang lebih besar: kesiapan pemain, konsistensi performa, regenerasi, kedalaman skuad, hingga strategi pembinaan secara keseluruhan.
Dan waktunya sangat singkat
Kejuaraan Dunia baru saja berakhir, sementara Asian Games Aichi-Nagoya 2026 sudah berada di depan mata, yang akan berlangsung pada 19 September–4 Oktober 2026. Persaingan di Asian Games tentu tidak akan mudah. China, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, India, dan negara-negara Asia lainnya terus berkembang dan memiliki kekuatan pemain yang semakin merata.
Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan reputasi sebagai salah satu negara dengan tradisi bulu tangkis terkuat di dunia.
Kita membutuhkan lebih dari sekadar pemain unggulan. Kita membutuhkan kedalaman skuad. Ketika pemain utama gagal, harus ada pemain lain yang mampu mengambil alih. Ketika satu sektor mengalami penurunan, sektor lain harus mampu menjadi penopang.
Karena itu, perunggu Amri/Nita seharusnya tidak hanya dipandang sebagai medali yang menyelamatkan wajah Indonesia di Kejuaraan Dunia. Medali tersebut justru dapat menjadi sinyal bahwa regenerasi masih memiliki harapan, sekaligus pengingat bahwa pekerjaan rumah Indonesia masih cukup besar.
Amri/Nita layak diapresiasi dan dikembangkan. Fajar/Fikri dan wakil lainnya perlu dievaluasi, bukan dihakimi. Sementara itu, PBSI perlu memastikan bahwa hasil Kejuaraan Dunia ini benar-benar diterjemahkan menjadi bahan evaluasi dan perbaikan sebelum menghadapi Asian Games.
Pada akhirnya, satu perunggu bukan alasan untuk pesimis, tetapi juga bukan alasan untuk berpuas diri.
Kejuaraan Dunia telah memberikan gambaran tentang posisi Indonesia saat ini. Asian Games Aichi-Nagoya akan menjadi ujian berikutnya.
Pertanyaannya sekarang bukan hanya siapa yang akan meraih medali, tetapi apakah Indonesia mampu membangun skuad yang cukup kuat untuk bersaing di setiap sektor.
Kejuaraan Dunia telah memberikan alarm. Asian Games akan memberikan jawabannya.
Muhammad Raihan Mubaraq : Dosen - Universitas Negeri Makassar

0 Komentar