Sade Terbakar, Ekonomi dan Budaya Masyarakat Jangan Ikut Padam, Oleh: Muhammad Raihan Mubaraq, S.E., M.A.


Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Lombok Tengah, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, bukan sekadar peristiwa kebakaran biasa. Sade adalah salah satu wajah kebudayaan masyarakat Sasak sekaligus destinasi wisata yang selama ini menjadi sumber penghidupan bagi banyak masyarakat.

DATA sementara menyebut sekitar 120 kepala keluarga atau 320 jiwa terdampak. Sejumlah rumah, fasilitas umum, museum, dan tempat usaha ikut terbakar. Karena itu, ketika api padam, persoalan Sade sebenarnya belum selesai.

Yang perlu dipikirkan sekarang bukan hanya bagaimana membangun kembali rumah yang terbakar, tetapi bagaimana menghidupkan kembali masyarakat yang kehilangan rumah, budaya, dan sumber penghasilan.

Kita tentu bersyukur tidak ada korban jiwa. Namun, kerugian akibat bencana tidak berhenti pada bangunan yang rusak. Sade memiliki nilai budaya yang tidak mudah digantikan. Rumah tradisional, benda-benda budaya, ruang hidup, serta pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi adalah bagian dari identitas masyarakat Sasak.

Karena itu, Sade memang harus dibangun kembali, tetapi jangan sekadar membangun bentuk fisiknya. Jangan sampai rumah-rumah kembali berdiri, tetapi kehidupan dan nilai budaya yang membuat Sade istimewa justru perlahan hilang.

Dalam proses pemulihan, masyarakat adat harus menjadi bagian utama. Pemerintah, akademisi, budayawan, dan pelaku pariwisata dapat memberikan dukungan, tetapi masyarakat Sade-lah yang paling memahami apa yang harus dipertahankan.

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: ekonomi masyarakat.

RRI melaporkan sekitar 320 pelaku wisata di kawasan Sade terdampak kebakaran. Mereka terdiri atas pengrajin tenun, pemandu wisata, dan pelaku usaha lainnya yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas pariwisata. Sebagian peralatan dan bahan usaha bahkan ikut terbakar.

Dampaknya bisa berantai. Ketika wisatawan tidak datang, pengrajin kehilangan pembeli, pemandu kehilangan pekerjaan, pedagang kehilangan pelanggan, dan usaha kecil kehilangan omzet. Perputaran ekonomi masyarakat pun ikut terganggu. Karena itu, pemulihan Sade tidak cukup hanya dengan bantuan pangan dan tempat tinggal sementara. Masyarakat harus dibantu untuk kembali bekerja dan memperoleh penghasilan.

Pemulihan alat produksi tenun dan kerajinan, bantuan permodalan, promosi produk, hingga strategi menghidupkan kembali kunjungan wisata perlu menjadi bagian dari proses pemulihan. Sebab, kehilangan rumah sekaligus kehilangan pekerjaan akan membuat beban masyarakat semakin berat.

Jangan Tunggu Bencana Berikutnya

Kita juga tidak perlu terburu-buru menyimpulkan penyebab kebakaran sebelum penyelidikan resmi selesai. Namun, peristiwa ini tetap harus menjadi bahan evaluasi.

Kawasan adat dengan bangunan tradisional dan permukiman yang cukup padat memiliki risiko kebakaran yang tidak boleh diabaikan. Melestarikan budaya bukan berarti membiarkan masyarakat hidup tanpa perlindungan dari risiko bencana.

Justru karena Sade memiliki nilai budaya yang tinggi, sistem keselamatannya harus diperkuat. Mitigasi kebakaran, akses pemadam, ketersediaan sumber air, jalur evakuasi, sistem peringatan dini, dan dokumentasi benda-benda budaya harus menjadi bagian dari pengelolaan kawasan adat dan wisata. Jangan menunggu kampung adat lain terbakar baru kita kembali berbicara tentang mitigasi.

Sade Harus Bangkit

Sade pada akhirnya harus kembali hidup. Rumah-rumah boleh dibangun kembali, aktivitas wisata dipulihkan, dan usaha masyarakat kembali berjalan. Tetapi pemulihan itu harus berpihak kepada masyarakat dan tetap menjaga identitas budaya.

Jangan sampai Sade dipulihkan hanya agar wisatawan kembali datang, sementara masyarakatnya masih berjuang memulihkan kehidupan.

Tragedi ini seharusnya mengingatkan kita bahwa desa adat bukan sekadar objek wisata. Ia adalah ruang hidup, tempat budaya diwariskan, sekaligus sumber ekonomi masyarakat. Karena itu, ketika Sade terbakar, yang harus kita selamatkan bukan hanya bangunannya.

Kita harus menyelamatkan manusianya, budayanya, dan ekonominya.

Api boleh memadamkan rumah-rumah Sade. Tetapi jangan sampai api itu ikut memadamkan masa depan masyarakat yang selama ini menjaga warisan budaya tersebut.

Sade harus dibangun kembali, bukan sekadar menjadi Sade yang baru, tetapi menjadi Sade yang tetap hidup, berbudaya, dan menghidupi masyarakatnya.

Muhammad Raihan Mubaraq, S.E., M.A.- Dosen - Universitas Negeri Makassar


0 Komentar