‎Wisuda ke-55 UIN Mataram, 699 Sarjana Menjemput Masa Depan, Saat Ilmu Bertemu Pengabdian ‎

Rektor UIN Mataram Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag ketika memberikan sambutan
BidikNews,Mataram — Sabtu, 22 Agustus 2026, menjadi salah satu hari yang akan dikenang dalam perjalanan akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Dalam rangkaian Wisuda ke-55, sebanyak 699 wisudawan dan wisudawati dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) serta Pascasarjana UIN Mataram resmi dikukuhkan.

Hari itu bukan sekadar seremoni akademik, melainkan titik temu antara ilmu yang telah ditempa, perjuangan yang telah dilalui, doa orang tua, dan pengabdian yang segera menanti di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Rektor UIN Mataram Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag menegaskan bahwa wisuda merupakan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Di balik toga dan ijazah, terdapat perjalanan panjang yang tidak selalu mudah. Ada proses jatuh dan bangun, ada kegagalan yang harus dilewati, ada kesabaran yang diuji, serta ada doa orang tua yang terus mengiringi langkah anak-anaknya hingga sampai pada hari bersejarah tersebut.

“Wisuda adalah buah dari proses panjang, bahkan dari jatuh bangun, karena itu, hari ini jangan hanya dilihat sebagai akhir perjalanan, tetapi sebagai titik temu antara ilmu dan pengabdian,” pesan Rektor.

Menurut beliau, ilmu yang diperoleh para wisudawan tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan yang tersimpan dalam ijazah. Ilmu harus hadir dalam kehidupan, memberi manfaat, menyelesaikan persoalan, dan menghadirkan perubahan. Sebab, di tengah masyarakat selalu terdapat persoalan, sementara masyarakat selalu menunggu hadirnya solusi.

Karena itu, Rektor mengajak para wisudawan untuk terus menjadi pembelajar sekaligus pendidik masa depan. Ilmu tidak pernah memiliki ujung. Satu jawaban akan melahirkan pertanyaan baru, dan satu pengetahuan akan membuka cakrawala pengetahuan berikutnya.

“Teruslah belajar, karena orang yang berhenti belajar sesungguhnya sedang membatasi masa depannya sendiri,” pesannya.

Para sarjana, lanjut Rektor, tidak cukup hanya mampu menjawab dengan benar. Mereka harus mampu menjawab dengan manfaat dan dampak. Keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari seberapa tinggi gelar yang diperoleh, tetapi dari seberapa besar kehadiran seseorang mampu memberi arti bagi masyarakat.

Pesan penting lainnya adalah agar para wisudawan menjadikan ilmu sebagai identitas sekaligus tanggung jawab. Di belakang nama mereka kini terdapat almamater UIN Mataram yang membawa nilai cendekia, terbuka, dan unggul. Nama almamater itu harus dijaga melalui karya, integritas, dan pengabdian.

Lebih dalam lagi, Rektor mengingatkan para wisudawan untuk tidak melupakan orang tua.

“Saatnya Anda berbuat yang terbaik kepada orang tua. Mereka mungkin tidak mengikuti seluruh aktivitas perkuliahan, tetapi ada air mata yang tertumpah, ada doa yang dipanjatkan, dan ada harapan yang disimpan. Sesungguhnya, wisuda ini juga merupakan keberhasilan orang tua.”

Di penghujung sambutannya, Rektor menyampaikan pesan sederhana tetapi mendalam: 

“Boleh menjadi orang besar, tetapi jangan pernah merasa paling besar.” Pesan tersebut menjadi bekal moral agar para sarjana tetap rendah hati di tengah capaian dan kesuksesan yang kelak diraih.

Setelah sambutan Rektor, agenda dilanjutkan dengan orasi ilmiah oleh Dr. Ir. H. Nanang Samodra, KA, M.Sc., Anggota DPR RI Komisi VIII, dengan tema “Keberlanjutan Pengelolaan Haji.”

Dr. Ir. H. Nanang Samodra, KA, M.Sc., Anggota DPR RI Komisi VIII,
Dalam orasinya, Nanang Samodra mengangkat persoalan strategis pengelolaan dana haji yang memiliki dimensi ekonomi, sosial, syariah, sekaligus pertanggungjawaban moral dan spiritual.

Indonesia, menurutnya, menghadapi kenyataan panjangnya masa tunggu keberangkatan haji yang dapat mencapai lebih dari dua puluh tahun di sejumlah daerah.

Beliau juga menyampaikan bahwa dana haji yang telah terkumpul mencapai lebih dari Rp180 triliun. Besarnya dana tersebut menjadikan pengelolaannya sebagai amanah besar yang tidak hanya harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat Muslim, tetapi juga kepada Allah SWT.

Ia menjelaskan bahwa sebelum lahirnya UU Nomor 34 Tahun 2014, pemanfaatan dana haji lebih banyak berada dalam wilayah administratif.

Setelah adanya regulasi tersebut, pemanfaatan dana haji dapat dikembangkan untuk kepentingan yang lebih luas, termasuk subsidi dengan tetap berlandaskan prinsip syariah, kehati-hatian, transparansi, dan akuntabilitas.

Salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan adalah Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), dengan prinsip tidak mengganggu dana pokok dan tetap menjaga kualitas pelayanan kepada jamaah haji.

Menurut Nanang, pengelolaan dana haji harus dibangun secara berkelanjutan dan berkeadilan. Subsidi silang dimungkinkan sepanjang sesuai dengan prinsip hukum fiqih dan semangat ta'awun, yakni saling menolong.

Dengan prinsip tersebut, pengelolaan dana haji tidak semata-mata berbicara tentang angka dan investasi, tetapi tentang bagaimana manfaatnya dapat dirasakan secara adil oleh seluruh jamaah.

Ia berharap seluruh masyarakat Muslim dapat memperoleh akses informasi mengenai pengelolaan dana haji secara terbuka. Dana tersebut harus dikelola dengan prinsip keadilan dan kebermanfaatan, sekaligus memperkuat nilai-nilai syariah dan terbebas dari praktik riba.

Pesan paling penting dari orasi tersebut adalah bahwa pengelolaan dana haji pada akhirnya harus bermuara pada satu tujuan: jangan sampai kesempurnaan ibadah haji jamaah terganggu akibat pengelolaan dana yang tidak baik. Sebab, di balik setiap rupiah dana haji terdapat harapan seorang Muslim untuk memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci.

Rangkaian Wisuda ke-55 hari pertama itu kemudian ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada wisudawan terbaik. Momen tersebut menjadi simbol penghargaan atas ketekunan, prestasi, dan dedikasi yang telah mereka tunjukkan selama menempuh pendidikan di UIN Mataram.

Wisuda ke-55 akhirnya bukan sekadar tentang 699 nama yang bertambah dalam daftar alumni, tetapi tentang 699 perjalanan baru yang dimulai. Mereka membawa ilmu, nilai, doa orang tua, dan nama besar almamater untuk hadir di tengah masyarakat.

Ijazah boleh menjadi tanda bahwa sebuah tahap pendidikan telah selesai. Namun, pengabdian adalah ujian sesungguhnya dari ilmu yang telah diperoleh.

Sebab pada akhirnya, sarjana sejati bukanlah mereka yang sekadar memiliki gelar di belakang nama, melainkan mereka yang mampu membuat ilmu hidup di tengah masyarakat—menjadi solusi, menghadirkan manfaat, dan meninggalkan dampak.

Pewarta: Tim

0 Komentar