BidikNews,Mataram - Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Pendanaan Riset Indonesia Bangkit Kemenag RI–LPDP (MoRA The AIR Funds Tahun 2025) menjadi momentum penting bagi Tim Periset PHEDEVI EduTech untuk mempresentasikan perkembangan, capaian, sekaligus rencana keberlanjutan penelitian di hadapan reviewer internal dan eksternal.
Prof. Arif Zamhari, Ph.D, M.Ag dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Prof. Dr. H. Kadri, M.Si.,Ketua LP2M UIN Mataram
Monev yang berlangsung di Mataram pada Rabu (16/9/2026) tersebut, menghadirkan Reviuwer Eksternal Prof. Arif Zamhari, Ph.D, M.Ag dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Reviuwer Internal UIN Mataram Prof. Dr. H. Kadri, M.Si., selaku Ketua LP2M UIN Mataram. Keduanya memberikan penilaian, masukan, dan arahan terhadap perkembangan riset yang dikembangkan oleh tim.
Penelitian yang diketuai Prof. Dr. Bahtiar, M.Pd.Si. dan 3 anggota peneliti, yaitu Prof. Dr. Maimun, M.Pd; Dr. Muhammad Zohri, M.Sc, Ibrahim, M.Pd; tersebut mengembangkan PHEDEVI EduTech (Physics Energy Digital Virtual), yaitu bahan ajar digital berbasis Virtual Laboratory dan Project-Based Learning bernuansa etnopedagogi untuk mengintegrasikan konsep Photovoltaic Thermal (PVT) dengan kemampuan problem solving, literasi sains, dan kreativitas mahasiswa.
PHEDEVI EduTech dikembangkan karena pembelajaran energi terbarukan di perguruan tinggi masih menghadapi keterbatasan media pembelajaran interaktif dan laboratorium nyata. Karena itu, riset menawarkan pendekatan yang menggabungkan teknologi digital, proyek, simulasi virtual, dan konteks kearifan lokal.
Selama tahun pertama, tim telah melaksanakan analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan produk, serta FGD validasi. Produk yang dikembangkan mencakup website PHEDEVI EduTech, bahan ajar digital, video pembelajaran, LKM, instrumen penilaian, dan Virtual Laboratory yang memungkinkan mahasiswa melakukan simulasi energi surya, angin, dan air dengan visualisasi data.
Riset ini juga melibatkan kolaborasi empat perguruan tinggi, yaitu UIN Mataram, UIN Walisongo Semarang, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkaya konteks lokal, memperkuat pengembangan produk, serta menyiapkan uji coba dan implementasi yang lebih luas pada tahun kedua.
Dalam sesi reviu, Prof. Arif Zamhari diharapkan dapat memberikan perspektif eksternal terhadap kualitas akademik, kebaruan produk, keterlaksanaan, dan potensi dampak PHEDEVI EduTech. Sementara itu, Prof. Dr. H. Kadri, M.Si. sebagai Reviuwer Internal sekaligus Ketua LP2M UIN Mataram dapat memberikan penguatan dari sisi tata kelola, keberlanjutan, dan kontribusi riset terhadap pengembangan pendidikan tinggi.
Ketua Tim Periset, Prof. Dr. Bahtiar, M.Pd.Si., menyampaikan bahwa Monev bukan sekadar forum untuk melaporkan capaian, tetapi menjadi ruang penting untuk memperoleh kritik dan masukan agar produk yang dikembangkan semakin valid, praktis, kontekstual, dan siap diimplementasikan.
Ketua Tim Periset, Prof. Dr. Bahtiar, M.Pd.Si., bersama tim lainnya
“Bagi kami, masukan reviewer merupakan bagian penting dari proses penyempurnaan. Targetnya bukan hanya menghasilkan produk digital, tetapi menghasilkan inovasi pembelajaran energi terbarukan yang benar-benar dapat digunakan mahasiswa dan memberikan dampak bagi pendidikan,” demikian draf pernyataan yang dapat disesuaikan dengan pernyataan asli Ketua Tim.
Berdasarkan presentasi tim, pengembangan PHEDEVI EduTech hingga Agustus 2026 telah menghasilkan fondasi produk yang mencakup materi, video, LKM, Virtual Laboratory, dan website. Hasil FGD validasi juga telah memberikan rekomendasi untuk penyempurnaan konten, desain, dan fitur sebelum memasuki tahap uji coba. Realisasi kegiatan dan anggaran juga menjadi bagian dari bahan evaluasi Monev.
Tahap berikutnya, tim akan melakukan penyempurnaan dan finalisasi produk, uji coba terbatas, evaluasi, penyusunan luaran, serta persiapan implementasi lebih luas pada tahun kedua. Dengan demikian, Monev tidak menjadi titik akhir, melainkan menjadi jembatan menuju riset yang lebih matang dan berdampak.
PHEDEVI EduTech pada akhirnya membawa pesan bahwa pembelajaran energi terbarukan tidak cukup hanya menjelaskan konsep. Mahasiswa perlu diberi kesempatan mengamati, mensimulasikan, menganalisis, merancang solusi, dan menghubungkan sains dengan persoalan nyata di masyarakat.
Dari energi surya hingga kearifan lokal, dari laboratorium virtual hingga proyek mahasiswa, PHEDEVI EduTech diarahkan untuk menghadirkan satu visi: renewable energy, ethnopedagogy, digital learning, dan sustainable future dalam satu inovasi pembelajaran. (Sumber: Tim Periset PHEDEVI EduTech )
Pewarta: TIM

0 Komentar