BANJIR seringkali kita pandang semata-mata sebagai bencana fisik—air yang merusak rumah, merendam ladang, dan meluluhlantakkan fasilitas umum, padahal dampak banjir jauh lebih dalam daripada sekadar kerusakan material, banjir bahkan melukai ruang batin, menciptakan trauma kolektif, kehilangan rasa aman, dan meretakkan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Di sinilah eko-healing menjadi sangat penting, dalam rangka penyembuhan mental dan spiritual pasca bencana. Secara sederhana, eko-healing berarti penyembuhan berbasis alam—yaitu proses pemulihan fisik, mental, emosional, bahkan spiritual dengan melibatkan kehadiran, sentuhan, dan keterhubungan dengan alam.
Eko-healing bukan hanya aktivitas memulihkan ekosistem, tetapi juga jalan penyembuhan mental dan spiritual yang tumbuh dari kesadaran ekologis. Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa merawat alam tidak pernah sekadar urusan teknis—membersihkan lumpur, menanam kembali vegetasi, atau memperbaiki irigasi—melainkan juga proses memulihkan luka di dalam diri kita sendiri.
Ketika banjir datang, bukan hanya rumah yang hancur, rasa aman pun terenggut, ketenangan batin tercerabut. Dan dalam situasi demikian, eko-healing hadir sebagai jembatan yang menghubungkan kembali manusia dengan alam dan dengan dirinya sendiri. Saat kita ikut menanam pohon di bantaran sungai yang meluap—kita sebetulnya sedang belajar menerima kenyataan dan memulihkan harapan. Saat kita memulihkan lahan basah yang rusak—kita sesungguhnya sedang merawat jiwa yang sempat kering oleh trauma.
Pasca banjir, eko-healing memanggil kita untuk menyadari dua hal yang saling berkaitan: pertama, bahwa alam punya daya pulih—alam memiliki bahasa kesabaran. Tanah yang retak bisa kembali subur, sungai yang keruh akan jernih bila dijaga, hutan yang gundul bisa hijau lagi bila kita mau. Ini adalah pengingat bahwa kerusakan tidak pernah final—alam menyimpan potensi kebangkitan—dalam diam, biji-biji yang tertinggal di tanah menunggu kesempatan untuk tumbuh. Ini semua adalah bahasa alam—bahasa yang tidak terburu-buru, yang mengajarkan manusia makna ketekunan.
Pesan ini penting karena ia menegaskan bahwa kerusakan itu tidak pernah final—kehancuran yang kita saksikan bukanlah titik akhir, melainkan jeda dalam siklus panjang kehidupan. Sama seperti luka dalam jiwa manusia yang bisa sembuh perlahan, luka di tubuh bumi pun menyimpan potensi kebangkitan.
Eko-healing, dalam konteks ini, bukan hanya tentang tindakan teknis memulihkan lingkungan, tetapi juga tentang memelihara keyakinan bahwa kebangkitan selalu mungkin, bahwa setiap tepi sungai yang kita bersihkan, setiap pohon yang kita tanam, dan setiap sampah yang kita pungut adalah bagian dari proses panjang memulihkan martabat alam dan martabat diri kita sendiri sebagai penjaga bumi.
Kedua, bahwa manusia memiliki tanggung jawab etis untuk merawatnya. Kita bukan hanya penerima manfaat alam, tetapi juga penanggung jawabnya. Dalam kesadaran ekologis, merawat bumi bukan kewajiban yang dipaksakan, melainkan panggilan nurani. Ini adalah komitmen moral yang tumbuh dari pengakuan bahwa kehidupan kita terjalin rapat dengan kehidupan pohon, tanah, air, dan udara.
Bahwa manusia memiliki tanggung jawab etis untuk merawatnya. Kalimat ini terdengar sederhana, tapi sesungguhnya mengandung makna yang sangat dalam. Di zaman modern yang serba praktis, kita sering memandang alam hanya sebagai sumber daya—sesuatu yang bisa dieksploitasi tanpa batas demi memenuhi kebutuhan dan ambisi kita. Padahal relasi manusia dengan alam bukan sekadar transaksi untung-rugi, melainkan ikatan moral yang tak terpisahkan.
Kita bukan hanya penerima manfaat alam, tetapi juga penanggung jawab, artinya setiap udara yang kita hirup, setiap air yang kita teguk, dan setiap hasil panen yang kita nikmati, membawa konsekuensi etis. Kita tidak berdiri di luar alam—kita bagian dari jaring kehidupan yang sama, karenanya merawat bumi bukan semata kewajiban administratif atau aturan hukum, melainkan sebuah panggilan nurani.
Panggilan nurani inilah yang menjadi inti kesadaran ekologis, bahwa nasib manusia tidak bisa dipisahkan dari nasib pohon, tanah, air, dan udara. Jika satu unsur terluka, keseluruhan sistem akan goyah. Jika sungai tercemar, bukan hanya ikan yang mati—kesehatan manusia pun terancam. Jika hutan musnah, bukan hanya spesies yang punah—tapi juga warisan budaya dan keseimbangan iklim yang menopang kehidupan kita semua akan terganggu.
Karena itulah bahwa merawat bumi adalah komitmen moral, bukan sekadar tindakan teknis atau kampanye sesaat, akan tetapi cara kita menegaskan jati diri sebagai makhluk yang diberi akal dan hati. Komitmen ini harus tumbuh dari kesadaran mendalam bahwa bumi bukan tempat tinggal yang netral—ia adalah rumah bersama yang harus kita jaga dengan cinta dengan rasa hormat.
Di tengah krisis ekologi yang makin nyata, kesadaran inilah yang paling kita butuhkan, kesadaran bahwa tanggung jawab ekologis adalah bagian dari tanggung jawab kemanusiaan, karena hanya dengan itu kita bisa menemukan cara hidup yang lebih adil, lebih arif, dan lebih selaras dengan keberlanjutan semesta—simbol rekonsiliasi antara manusia dan bumi, antara luka dan harapan, antara bencana dan kebijaksanaan.
Banjir mengingatkan kita bahwa keseimbangan kosmik—antara tanah, air, dan kehidupan—bisa terganggu oleh pola hidup kita sendiri; perusakan hutan, pengabaian tata air, kerakusan lahan, dan polusi sungai. Maka memulihkan lingkungan menjadi bagian dari memulihkan kebermaknaan hidup. Sekali lagi perlu kita ingat bahwa membersihkan sungai, menanam pohon, memulihkan mata air, dan mengelola sampah bukan sekadar kerja teknis, melainkan menjadi ritual kolektif yang menegaskan kembali relasi kita dengan alam.Hutan dan air yang tetap lestari
Dalam proses gotong royong memperbaiki lingkungan, kita sesungguhnya sedang membangun kembali solidaritas, begitu pula saat kita memulihkan sungai—kita sesungguhnya sedang memulihkan rasa keterhubungan, dan dalam merawat tanaman—kita sesungguhnya sedang merawat jiwa yang sempat patah oleh bencana.
Sebagai catatan pinggir, bahwa eko-healing pasca banjir bukan hanya tentang rekonstruksi fisik, melainkan juga tentang rekonstruksi kesadaran ekologis yang lebih bijak. Kita belajar dari banjir bahwa alam bukan sekadar latar pasif, melainkan subjek hidup yang merespons perilaku manusia. Dan di situlah letak pesan terdalam, bahwa memulihkan alam dapat menjadi cara terbaik agar kita sendiri bisa pulih sepenuhnya.
Penulis: adalah Guru Besar dan Wakil Rektor II UIN Mataram
0 Komentar