Zaman ketika segala sesuatu berlomba-lomba mencuri perhatian—suara yang saling bertabrakan, gambar yang tiada henti berkedip, dan kata-kata yang terus mengalir tanpa jeda—kita perlahan kehilangan satu anugerah yang tak ternilai, yakni ketenangan. Kehidupan seolah perlombaan tanpa jeda untuk tampil, merespons, dan memenuhi ruang.
Di tengah hiruk-pikuk ini, kita sering lupa bahwa ketenangan tidak datang dari semakin banyak mendengar, semakin banyak menatap, atau semakin banyak bicara. Kadang ketenangan justru lahir saat kita berani menepi. Saat kita memilih diam, menolak untuk mendengar semua suara, dan saat kita membatasi pandangan.
Kita bukan sekadar membayangkan zaman itu; akan tetapi saat ini kita sedang benar-benar mengalaminya, era di mana kesunyian dianggap asing, dan kesederhanaan terasa ketinggalan zaman. Di situasi yang demikian itu, memilih sunyi bukan kelemahan, melainkan keberanian untuk menyaring apa yang benar-benar penting. Biasanya dalam keheningan itulah, kita menemukan kejernihan yang selama ini hilang—suara hati, ketulusan, dan damai yang tak bisa dibeli oleh keramaian dunia.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan: “Sibukkanlah dirimu dengan memperbaiki hati, sebab kebisingan lidah dan kebisingan dunia tak akan ada habisnya. Siapa yang mengenal jiwanya, ia tak akan tersibukkan oleh riuh di luar dirinya.”
Mungkin kita pernah membayangkan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang selalu terhubung, selalu merespons, selalu menyimak, dan selalu mengamati. Padahal, sering kali justru dalam keberlimpahan stimulasi batin kita menjadi penat dan rapuh. Ada kebijaksanaan sederhana yang mulai terlupakan, yakni kemampuan menahan diri. Menahan lidah agar tidak tergesa-gesa berbicara. Menahan telinga agar tidak mendengarkan semua percakapan. Menahan mata agar tidak menyerap segala pemandangan.
Sikap ini bukan berarti menyerah pada keterbatasan, melainkan sebuah keberanian untuk menyaring apa yang layak masuk ke dalam ruang batin kita. Layaknya orang bisu yang tenang dalam diam, orang tuli yang tenteram dalam sunyi, dan orang buta yang selamat dari godaan rupa, kita pun bisa menemukan keteduhan dengan cara menutup sebagian pintu indera. Sebab tak semua yang tampak perlu diperhatikan, tak semua yang terdengar pantas disimpan, dan tak semua yang terucap layak dijawab.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan: “Sibukkanlah dirimu dengan memperbaiki hati, sebab kebisingan lidah dan kebisingan dunia tak akan ada habisnya. Siapa yang mengenal jiwanya, ia tak akan tersibukkan oleh riuh di luar dirinya.”
Apa yang dimaksud oleh Al Ghazali sungguh sejalan dengan kondisi saat ini, di mana dunia terasa terlalu ramai—segala hal ingin diucapkan, setiap pendapat ingin segera disiarkan. Lidah menjadi tak sabar untuk merangkai kata demi kata, pena tidak ingin diam dari merangkai kalimat, seolah diam adalah tanda kelemahan, padahal justru dalam diam kita sering menemukan sesuatu yang tak bisa diberikan oleh kebisingan.
Penting sejenak untuk menahan diri dari berbicara—layaknya orang bisu sebagai upaya menundukkan keinginan untuk selalu didengar, meredakan dorongan membenarkan diri, dan mengendapkan gejolak emosi. Diam membuat kita belajar mendengar apa yang selama ini luput—suara hati yang lirih, rasa syukur yang sering tertutup keluhan, bisikan nurani yang mengingatkan kita pada makna keberadaan.
Kadang ketenangan tidak datang dari mencari tempat yang sunyi, melainkan dari keberanian untuk menolak menjadi bagian dari hiruk-pikuk yang sia-sia. Ketika kita memilih tidak bicara, kita sedang menegaskan pada diri sendiri bahwa tidak semua hal pantas ditanggapi, tidak semua kegaduhan layak diladeni. Ada kebijaksanaan yang lahir saat kita berhenti berebut ruang bicara.
Seperti air yang jernih karena tenang, begitulah batin kita saat berani diam, dari sana kita bisa memandang kehidupan dengan lebih bening—tanpa bias kemarahan, tanpa kabut ego. Dan mungkin, justru dalam kebisuan itulah, kita mendapati suara paling penting—suara kedamaian yang selama ini kita cari.
Lukman Hakim berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, jika orang-orang berbangga dengan bagusnya ucapan mereka, maka berbanggalah engkau dengan bagusnya diammu.”
Kemudian untuk menemukan ketenangan di era saat ini, di samping diam, kadang juga kita perlu menahan diri untuk tidak mendengar seluruh suara. Seperti orang tuli yang hanya menangkap sunyi, kita pun perlu keberanian memilih apa yang layak diterima indera dan apa yang lebih baik diabaikan.
Tidak semua suara membawa kebenaran. Tidak semua kabar menumbuhkan kebijaksanaan, bahkan banyak yang hanya polusi emosional yang membuat batin makin sesak.
Menjadi tuli artinya menjaga kewarasan—menghindarkan jiwa dari letih yang tak perlu, memilih keheningan di antara kebisingan, memilih jarak dari kegaduhan, memilih fokus pada hal-hal yang benar-benar berguna. Seperti daun yang tidak perlu menangkap semua angin, hati pun tidak wajib memuat seluruh bunyi dunia.
Kadang ketenangan justru datang ketika kita rela melewatkan sebagian percakapan, membiarkan sebagian opini berlalu begitu saja. Saat kita berhenti memaksa diri mendengar segalanya, kita sesungguhnya sedang memberi ruang bagi pikiran untuk meresapi yang esensial—rasa syukur, makna keberadaan, dan suara lembut nurani. Di situlah letak damai yang tidak bisa dibeli oleh apa pun.
Kemudian era ini juga menghadirkan hiruk-pikuk visual—gambar demi gambar berseliweran di layar, pemandangan kehidupan orang lain yang terus-menerus dipamerkan, dan berbagai peristiwa yang seolah menuntut perhatian mata—kita kerap merasa letih, jenuh, bahkan hampa. Kehidupan terasa bising, bukan hanya oleh suara, tetapi juga oleh pandangan yang tak pernah henti menuntut respons dari batin kita.
Dalam situasi seperti ini, mungkin yang kita perlukan bukanlah lebih banyak melihat, melainkan menahan diri dari melihat segalanya—layaknya orang buta yang tidak tergoda oleh rupa dan warna. Ini bukan tentang menutup mata secara fisik, tetapi tentang menutup sebagian jalur masuk menuju kegelisahan. Kadang terlalu banyak melihat, akan membuat kita membandingkan, menginginkan, mencemaskan, dan akhirnya kehilangan kedamaian.
Dengan menahan pandangan, kita sesungguhnya sedang memberi kesempatan pada batin kita untuk melihat lebih jernih. Kita belajar menatap bukan dengan mata, tetapi dengan hati—melihat yang tak kasatmata—keikhlasan, ketulusan, makna di balik kesederhanaan. Dalam “kebutaan” semacam ini, kita menemukan ketenangan yang selama ini tersembunyi di balik keramaian visual.
Sebagai catatan pinggir, bahwa di tengah zaman yang riuh oleh suara, gambar, dan opini yang saling berebut perhatian, kita justru semakin kehilangan satu anugerah paling berharga, yakni ketenangan batin.
Dalam arus informasi yang deras dan tuntutan untuk selalu tampil, mendengar, dan merespons, kita lupa bahwa diam, membatasi pendengaran, dan menahan pandangan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk keberanian menyaring apa yang benar-benar layak masuk ke dalam diri.
Tidak semua hal pantas didengar, tidak semua kabar perlu dipercaya, dan tidak semua yang tampak layak untuk diserap. Justru dalam kesunyian yang dipilih dengan sadar, kita menemukan kembali suara hati, makna keberadaan, dan kedamaian yang tak bisa diberikan oleh kebisingan dunia.
Penulis: adalah Guru Besar dan Wakil Rektor II Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram
0 Komentar