![]() |
Hikmah Jum`at, 25 Juli 2025 |
Seorang anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan, namun begitu ia hadir, ia membawa harapan, membawa masa depan, membawa kemungkinan yang belum pernah ada. Ingatlah tatkala anak yang kita tunggu-tunggu lahir, kita mulai menenun harapan-harapan, membayangkan anak itu tumbuh menjadi sosok yang kuat dalam iman, cerdas dalam pikiran, dan halus dalam rasa, mungkin juga berharap anak itu kelak menjadi seseorang yang berguna, yang jujur, yang memuliakan orangtuanya dan memberi cahaya bagi sekitarnya.
Yang jelas anak kita datang ke dunia dengan tangan kecil yang kosong—menunggu untuk digenggam, dibimbing, dan dipenuhi oleh cinta. Anak tidak butuh dunia yang sempurna, mereka hanya butuh dunia yang tidak melukai—tempat di mana kata-kata lembut lebih dikedepankan ketimbang bentakan, di mana pelukan lebih cepat hadir dari hukuman, sebab anak-anak bukan miniatur orang dewasa—mereka adalah makhluk yang sedang belajar merasa, memahami, dan mencari makna hidup. Dan cinta adalah bahasa pertama yang mereka mengerti, bahkan sebelum mereka bisa bicara.
Dunia hari ini bukan tempat yang selalu ramah, ada begitu banyak bentuk kekerasan yang tersembunyi di balik gawai, di dalam rumah, bahkan di lingkungan sekolah. Dari itulah maka cinta harus bersanding dengan perlindungan—perlindungan yang tidak hanya melindungi tubuh anak, tapi juga jiwanya. Anak-anak tidak hanya butuh tempat tinggal, mereka butuh rumah, bukan hanya butuh pengawasan, tapi juga kehadiran, dan bukan hanya butuh aturan, tapi juga kehangatan.
Ketika anak tumbuh dalam cinta dan berkembang dalam perlindungan, ia tidak sekadar menjadi pintar, akan tetapi mengetahui cara menghargai sesama, tahu caranya menyayangi bumi, tahu caranya menjadi manusia—karena ia sendiri telah merasakan apa artinya diperlakukan sebagai manusia.
Penting kita sadari bahwa peringatan hari anak nasional bukan hanya tentang anak-anak, tetapi tentang kita semua—sejauh mana kita masih mampu melihat anak sebagai anugerah, bukan beban, bukan semata sebagai momen untuk memberi ucapan atau menghadirkan senyuman sementara di wajah anak-anak, akan tetapi lebih dalam dari itu, ia adalah cermin yang memantulkan sejauh mana kita sebagai orang dewasa telah memperlakukan anak-anak dengan layak dan penuh kasih sayang, sebab anak-anak tidak tumbuh dalam ruang hampa melainkan dibentuk oleh cara kita berbicara kepada mereka, oleh keputusan yang kita ambil atas nama mereka, dan oleh dunia yang kita ciptakan untuk mereka tempati.
Kemudian peringatan hari anak juga tentang cara pandang kita—apakah masih mampu melihat anak sebagai amanah yang mesti dijaga, atau justru sebagai gangguan yang mengganggu karier, kenyamanan, bahkan ego kita. Hari Anak adalah hari untuk menakar kesadaran kita sebagai orang dewasa—masihkah kita melihat anak sebagai cahaya kehidupan, atau sekadar tambahan tanggung jawab yang melelahkan?. Dunia dewasa kerap sibuk dengan ambisi, target, dan gengsi—hingga lupa bahwa hadirnya anak adalah titipan suci, bukan hambatan. Ia bukan beban yang memperlambat langkah, melainkan penyeimbang agar langkah kita tetap berada di jalan yang bermakna.
Pertanyaan penting yang harus kita renungkan bukan hanya “apa yang telah kita berikan pada anak-anak?”, tetapi juga “apa yang telah kita hilangkan dari mereka demi kenyamanan kita?”. Waktu, perhatian, kasih sayang—terkadang dikorbankan demi mengejar sesuatu yang kita anggap lebih penting, padahal masa kecil anak tidak akan pernah bisa diulang. Saat kita memarahi mereka karena rewel, saat kita mengabaikan tangis mereka karena rapat yang tak bisa ditunda, saat itulah kita perlahan sedang menempatkan ego kita di atas hak anak untuk dicintai tanpa syarat.
Anak adalah anugerah yang membawa pesan Tuhan, bahwa masa depan masih mungkin diperbaiki, bahwa hidup masih patut diperjuangkan, namun ketika anak dipandang sebagai beban—beban ekonomi, beban waktu, atau beban sosial—maka sesungguhnya kitalah yang sedang kehilangan arah.
Anak tidak hanya hadir untuk mengisi rumah dengan suara tawa atau tangis, tapi untuk mengingatkan bahwa kehidupan ini masih punya harapan. Dalam setiap anak tersimpan pesan ilahi—bahwa masa depan belum tertutup, bahwa hidup meski sering terasa berat, tetap masih bisa diperjuangkan. Anak membawa janji akan masa depan yang lebih baik, asal kita mampu membimbing dan menjaganya dengan cinta dan kesadaran.
Jadi hari anak sejatinya adalah panggilan untuk memperbaiki cara pandang—bahwa anak bukan pengganggu, bukan penghalang, tetapi guru kehidupan—dari merekalah kita belajar menjadi lebih sabar, lebih lembut, dan lebih manusiawi. Oleh karenanya, mari kita sikapi peringatan hari anak bukan hanya dengan selebrasi, tapi dengan kesadaran—bahwa setiap anak adalah cermin tanggung jawab kita, dan setiap sikap kita hari ini akan membentuk seperti apa wajah dunia esok hari.
Sebagai catatan pinggir, bahwa hari anak mengajak kita untuk merenungi kembali cara kita memperlakukan mereka—sudahkah kita melihat mereka dengan mata penuh cinta, bukan kalkulasi?, sudahkah kita memperjuangkan masa depan mereka seperti kita memperjuangkan karier atau harta kita?, ingatlah, saat kita kehilangan kepekaan terhadap anak, sejatinya kita sedang kehilangan harapan pribadi.
Maka Hari Anak Nasional adalah pengingat, bahwa mencintai anak bukan cukup dengan memberi, tapi juga dengan menghargai. Bukan hanya menyediakan, tapi juga menemani. Bukan sekadar menyekolahkan, tapi juga mendengarkan isi hatinya. Kita bertanggung jawab, bukan hanya atas hidup mereka hari ini, tapi juga atas manusia seperti apa mereka akan tumbuh esok hari. Karena masa depan yang cerah tidak lahir dari anak yang sekadar diasuh, tapi dari anak yang benar-benar dihargai sebagai anugerah.
Mari kita renungkan ayat Tuhan terkait dengan kualitas pengasuhan dari Nabi Ya’kub AS: ”Am kuntum syuhadâ’a idz ḫadlara ya‘qûbal-mautu idz qâla libanîhi mâ ta‘budûna mim ba‘dî, qâlû na‘budu ilâhaka wa ilâha âbâ’ika ibrâhîma wa ismâ‘îla wa is-ḫâqa ilâhaw wâḫidâ, wa naḫnu lahû muslimûn”. Apakah kamu (hadir) menjadi saksi menjelang kematian Ya‘qub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri. (QS. Al Baqarah: 133).
Penulis: adalah Guru Besar dan Wakil Rektor II Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram
0 Komentar