![]() |
Hikmah Jum`at, 27 Pebruari 2026 |
Di antara sekian banyak ibadah dalam Islam, puasa memiliki keunikan tersendiri dari sisi ruang dan waktu. Ia tidak memerlukan ruang khusus seperti masjid, tidak bergantung pada gerakan tubuh tertentu seperti salat, dan tidak terikat pada lokasi tertentu seperti haji yang terpusat di Mekkah.
Dari sisi waktu, puasa berlangsung sepanjang rentang harian yang utuh: sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, selama satu bulan penuh dalam bulan Ramadan. Artinya, ia bukan ibadah sesaat, melainkan ibadah yang membingkai keseluruhan aktivitas hidup sehari-hari.
Jika shalat hanya beberapa menit dalam satu waktu, maka puasa adalah kesadaran spiritual yang terus menerus selama berjam-jam setiap hari. Ia mengajarkan konsistensi, ketahanan, dan pengendalian diri dalam durasi yang panjang.
Puasa juga merupakan ibadah yang menjadikan seluruh alam semesta sebagai lanskap spiritualnya. Di mana pun seorang muslim berada—di ruang kerja, di sawah, di hutan, di kampus, di tengah riuh pasar, atau dalam sunyi kamar pribadinya—di situlah puasa berlangsung. Ia adalah ibadah yang menyatu dengan kehidupan, sekaligus menyatu dengan semesta.
Keunikan ini menghadirkan pemahaman baru ketika dikaitkan dengan perspektif ekofenomenologi, relasi manusia dan alam—bukan sekadar hubungan fungsional, tetapi relasi eksistensial dan spiritual.
Puasa membebaskan ibadah dari sekat ruang sakral formal. Jika salat memiliki mihrab, zakat memiliki sistem distribusi, dan haji memiliki titik-titik manasik, maka puasa memiliki cakrawala tak berbatas. Ia berlangsung sejak fajar hingga magrib, mengikuti ritme kosmik matahari.
Ketika kita menahan diri sejak terbitnya cahaya subuh hingga tenggelamnya matahari, sesungguhnya kita sedang menyelaraskan diri dengan peredaran alam. Waktu puasa ditentukan oleh gerak bumi dan matahari—sebuah tanda bahwa ibadah ini beresonansi langsung dengan struktur kosmik.
Dalam perspektif Seyyed Hossein Nasr, bahwa krisis modernitas lahir karena manusia memandang alam sebagai objek yang boleh dieksploitasi tanpa makna spiritual.
Puasa, jika dipahami secara mendalam, justru memulihkan sakralitas alam. Saat lapar dan haus, manusia menyadari bahwa seteguk air dan sebutir kurma bukan sekadar benda konsumsi, tetapi anugerah ekologis. Dan puasa menyingkap kenyataan bahwa manusia hidup dari kemurahan alam yang diciptakan Tuhan.
Ekofenomenologi melihat pengalaman ekologis sebagai pengalaman batin yang membentuk kesadaran etis. Saat berpuasa misalnya, seorang muslim merasakan langsung rapuhnya tubuh, rasa haus membuat kita sadar bahwa air bukan sesuatu yang bisa disia-siakan, demikian pula rasa lapar menyadarkan bahwa pangan bukan komoditas tanpa makna. Di titik inilah puasa dan ekofenomenologi menemukan relevansinya.
Kesadaran ini bisa berkembang menjadi etika ekologis: mengurangi pemborosan, menahan eksploitasi, dan memandang alam sebagai amanah, bukan sekadar sumber daya.
Berbeda dengan ibadah lain yang menuntut kesiapan fisik dalam ruang tertentu, puasa menuntut kesiapan batin dalam setiap ruang. Ia tidak bisa dipamerkan secara lahiriah. Orang yang berpuasa tetap bekerja, tetap berjalan, tetap berinteraksi. Bahkan sering kali tidak ada yang tahu apakah ia sedang berpuasa atau tidak.
Dimensi tersembunyi ini membuat puasa sangat personal sekaligus universal. Ia personal karena hanya Tuhan dan diri yang tahu kualitasnya; ia universal karena berlangsung di tengah dunia yang sama-sama kita huni.
Secara ekofenomenologis, puasa mengajak manusia mengalami dunia dengan kesadaran baru. Lapar bukan sekadar sensasi biologis, tetapi pintu refleksi. Haus bukan sekadar kekurangan cairan, tetapi pengalaman eksistensial tentang keterbatasan.
Ketika matahari terasa terik di siang hari, tubuh yang berpuasa merasakannya dengan intensitas berbeda. Alam tidak lagi netral; ia menjadi cermin yang memantulkan kondisi batin. Terik matahari menguji kesabaran, hembusan angin memberi kesejukan yang disyukuri, suara azan magrib menjadi momen kosmik yang dinanti.
Kalau ibadah haji menjadikan Ka’bah sebagai pusat orientasi fisik umat Islam, berbeda dengan puasa, menjadikan seluruh bumi sebagai ruang pengabdian. Tidak ada batas geografi dalam menahan diri, seluruh umat muslim yang berpuasa di setiap belahan bumi, tetap menjalankan ibadah yang sama, hanya saja berbeda panjang waktunya sesuai posisi matahari. Di sini terlihat bahwa puasa adalah ibadah yang kosmik—ia berinteraksi langsung dengan rotasi bumi dan peredaran matahari.
Dalam konteks masyarakat modern yang cenderung eksploitatif terhadap alam, puasa menghadirkan pendidikan ekologis yang lembut tetapi radikal. Ia mengajarkan “cukup.” Dalam budaya konsumsi berlebih, puasa melatih pembatasan.
Dalam logika kapitalistik yang menuntut produksi dan konsumsi terus-menerus, puasa memperkenalkan jeda. Jeda ini bukan kemunduran, melainkan ruang kontemplasi. Ketika konsumsi dihentikan sementara, maka kesadaran akan tumbuh. Artinya ketika kita berhenti menikmati sesuatu untuk sementara, kita jadi lebih sadar, lebih menghargai, dan lebih bijak dalam bersikap. Kita belajar bahwa hidup tidak hanya tentang mengambil dari alam, tetapi juga tentang menghormatinya.
Setiap butir nasi saat berbuka puasa menjadi bermakna, apa yang kita santap tidak lagi dipandang sebagai makanan biasa, tetapi sebagai hasil kerja alam –tanah, air, matahari, dan juga tangan manusia. Kesadaran ini akan menumbuhkan rasa syukur ekologis—sebuah kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari jaringan kehidupan yang luas.
Lebih jauh, puasa memperluas makna ibadah dari ritual menuju relasi. Ia bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi menahan kerakusan terhadap dunia.
Dalam perspektif ekologis, kerakusan adalah akar krisis lingkungan, ketika manusia tidak mampu menahan diri, hutan ditebang tanpa kendali, laut dieksploitasi berlebihan, dan bumi diperlakukan sebagai objek tanpa jiwa. Puasa melatih disiplin batin untuk berkata “cukup.” Kata sederhana ini, jika dihayati secara kolektif, dapat menjadi fondasi etika lingkungan yang kuat.
Dalam tradisi Islam, alam disebut sebagai ayat—tanda-tanda kebesaran Tuhan. Puasa membuat kita membaca ayat-ayat itu dengan cermat dan tentunya lebih peka. Ketika senja tiba dan warna langit berubah menjadi jingga, hati yang berpuasa merasakannya sebagai penanda waktu berbuka, sekaligus sebagai lukisan kosmik yang menggetarkan. Waktu tidak lagi sekadar hitungan jam, tetapi pengalaman spiritual yang menyatu dengan pergerakan alam.
Sebagai catatan pinggir, puasa mengajarkan bahwa spiritualitas sejati tidak terpisah dari ekologi. Ketika manusia berpuasa dengan kesadaran penuh, ia tidak hanya mendekat kepada Tuhan, tetapi juga berdamai dengan bumi. Ia belajar merasakan, bukan sekadar menggunakan. Ia belajar bersyukur, bukan sekadar mengonsumsi. Dan di situlah puasa menemukan makna terdalamnya: menjadikan seluruh alam sebagai lanskap ibadah, tempat manusia berlatih menjadi makhluk yang sadar, rendah hati, dan bertanggung jawab terhadap sesama dan semesta.
Kemudian puasa menjadi momen latihan menyadari bahwa kita hidup bukan di atas alam, tetapi di dalamnya, kita bukan penguasa mutlak bumi, melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang sakral.
Prof. DR. H. Maimun Zubair adalah:
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK)Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram



0 Komentar