Khutbah Jum`at di Masjid Al Achwan GPI Mataram, Mewarisi Kebaikan Ramadhan, Oleh Ustadz Drs. H. Muhammad Nasikhin M.Ag


Mewarisi kebaikan Ramadhan berarti mengambil esensi, nilai-nilai, dan amalan-amalan utama bulan suci Ramadhan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara konsisten, bahkan setelah bulan suci berlalu. 

BidikNews.net,NTB - Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan madrasah spiritual untuk membentuk pribadi yang lebih baik. Bulan mulia itu memang segera berlalu, namun jangan sampai bulan tersebut tidak memberikan jejak sama sekali dalam hidup kita.

Demikian khutbah Jum`at yang disampaikan Ustadz, Drs. H. Muhammad Nasikhin, M.Ag pada, 20 Maret 2026 betepatan dengan 29 Ramadhan 1447 H di Masjid Al Achwan Griya Pagutan Indah Mataram.

Beliau mengajak seluruh jamaah sholat Jum`at untuk mewarisi amalan-amalan kebaikan yang telah rutinkan dan pupuk dengan baik selama di bulan ramadhan untuk terus dijaga jaga pada 11 bulan berikutnya.

“Amalan-amalan kebaikan yang kita telah rutinkan dan kita pupuk dengan baik di bulan ramadhan agar terus dijaga hingga seterusnya.” Ucap Ustadz H. Muhammad Nasikhin..

Amalan yang hendaknya senantiasa kita jaga selepas ramadhan, sebagai bentuk komitmen kita menuju ketakwaan yang hakiki serta semoga menjadi pertanda amalan kita di bulan ramadhan Allah terima.” Lanjut Imam Besar Masjid Al Achwan ini.

Membaca Al-Quran Setiap Hari

Diuraiakannya bahwa, Ramadhan menyampaikan kepada kita bahwa membaca 1 Juz dari Alqur’an setiap hari, itu sangat mudah; tapi selama ini kita memang sangat dikuasai oleh pikiran tentang dunia,” ucapnya.

Hikmah khutbah jumat yang disampaiakn Ustadz Muhammad Nasikhin bahwa banyak orang pada bulan-bulan biasa merasa berat membaca Al-Qur’an secara rutin, bahkan satu juz pun terasa sulit. Namun ketika datang bulan Ramadhan, sebagian besar kaum muslimin mampu membaca satu juz bahkan lebih setiap hari. 

Hal ini menunjukkan bahwa kesulitan itu sebenarnya bukan pada kemampuan, tetapi pada prioritas hati dan kesibukan pikiran.” Uarainya.

Tetap Shalat Malam

Diuraikannya, bahwa Ramadan menyampaikan kepada kita agar terus melaksanakan sholat malam ( tahajud). Sholat tahajud adalah ibadah malam yang sangat dianjurkan, menawarkan manfaat spiritual dan fisik yang luar biasa.  Rutin tahajud juga dijamin mendatangkan kemuliaan, baik di dunia maupun akhirat.” Kata Dosen senior UIN Mataram itu.

Gemar berdarma

Ia juga menguraiakn bahwa, Ramadhan mengajarkan kita untuk senantiasa berdarma sebab, ketika seseorang berpuasa, ia merasakan lapar dan dahaga sepanjang hari. Pengalaman ini membuat hati lebih mudah memahami keadaan orang-orang yang setiap hari hidup dalam kekurangan.

Shalat Subuh Berjamaah

Hikmah Mewarisi kebaikan Ramadhan sebagaimana tema Khutbah yang disampikan Ustadz H. Muhammad Nasikhin ketika bulan Ramadhan, agar kaum muslimin bertahan dan mampu bangun malam untuk sahur dan melaksanakan berbagai ibadah. Setelah itu umat muslim tetap mampu pergi ke masjid untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Suasana ini menumbuhkan rasa kebahagiaan ketika berada di rumah Allah.

Bahkan orang yang hatinya terpaut dengan masjid termasuk golongan yang mendapat keistimewaan besar di hari kiamat. Ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada masjid merupakan tanda kemuliaan iman.

Hikmah Khutnah Jumat yang disampaikan Ustadz H. Muhammad Nasikihin juga mengungkapkan terdapat tiga golongan manusia dalam menyambut bulan Ramadhan, antara lain, antara lain:

Golongan yang merasa bersedih atau terbebani dengan datangnya Ramadhan.

Dari uraian khutbah jumat yang disampaiakan Ustadz H. Muhammad Nasikhin mengisyaratkan bahwa Golongan manusia ini adalah mereka yang begitu sedih dengan kedatangan bulan Ramadhan. 

Mereka seperti orang yang mau mati kala mengingat segala kesenangan dan aktivitas duniawi mereka akan segera sirna, tidak bisa lagi menikmati hidangan lezat di siang hati, harus berhaus-haus menanti saat berbuka, harus ini harus itu dan sebagainya. 

Mereka begitu merasa sedih dengan datangnya bulan ini, yang terbayang adalah mereka akan merasa kehausan, merasa lapar, tak bisa lagi bebas sesuka hati berbuat ini dan itu, mereka khawatir pekerjaan yang mereka usahakan selama ini akan terganggu dan tidak optimal dengan datangnya perintah puasa. 

Bulan yang seharusnya menjadi bulan pendulang pahala sebanyak-banyaknya, bulan yang seharusnya menjadi pencuci dosa dan jiwa yang kelam, justru menjadi momok yang begitu mengkhawatirkan bagi mereka, sungguh kita merugi jikalau dihati kita ada terbesit perasaan dan fikiran seperti itu.

Golongan biasa saja yang menganggap Ramadhan seperti bulan lain

Golongan yang biasa-biasa saja ini kata Ustadz H. Muhammad Nasikhin tidak tahu dengan keberadaan Ramadhan, tidak tahu bahwa Ramadhan sebentar lagi datang, tidak mau peduli mempersiapkan kesibukan di bulan Ramadhan.

Dari uraian khutbah jumat itu ini menyiratkan bahwa golongan ini malah sibuk mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan untuk idul fitri, melengkapi isi lemari es mereka, memenuhi lemari mereka dengan pakaian-pakaian baru, sementara mereka lupa akan esensi utama dari bulan Ramadhan sehingga tanpa sadar mereka pun melupakan bulan Ramadhan. 

Mereka tidak benci, tidak pula senang dengan adanya bulan ini, mereka menjadikan Ramadhan layaknya sebelas bulan lainnya, datang dan pergi begitu saja, maka merugilah golongan ini karena mereka melupakan keagungan bulan ini, mereka lupa dengan maghfirah yang begitu luas di dalamnya, maka bagaimana mungkin keagungan itu mau mengingat dan menghampiri mereka sementara mereka melupakannya.

Golongan bersuka cita dan mempersiapkan diri dengan ibadah 

Golongan ini kata Ustadz H. Muhammad Nasikhin, adalah golongan orang-orang yang begitu rindu dengan bulan Ramadhan, bahkan sebelum kedatangan bulan Ramadhan mereka sudah terngiang-ngiang dengan kedatangan bulan ini.

Sibuk, semakin sibuk di hari-hari menjelang bulan Ramadhan, sibuk mempersiapkan segala hal agar mereka siap di kala Ramadhan tiba. Mereka menyiapkan mushaf untuk mereka khatamkan, mereka siapkan baju yang bersih mereka untuk di pakai kala menghadap rabbnya di hari-hari bulan agung ini, mereka cuci sarung-sarung mereka, mereka bersihkan mukena-mukena mereka.

Begitu gembira, itulah yang menggambarkan suasana hati mereka yang dipenuhi iman dan kerinduan akan ampunan. 

Target-target besarpun telah mereka susun untuk menjadi insan Ramadhan sejati, tak ada kesedihan bagi mereka melainkan kesedihan atas dosa-dosa dan kesedihan akan ditinggal pergi Ramadhan. 

Mereka faham betul akan tidak adanya bulan lain yang melebihi keagungan bulan ini. Inilah golongan yang dirindukan Ramadhan dan dirindukan syurga.

Mengajak umat muslim agar hati ini terus merindukan RahmatNya? Tetap gembira dengan kedatangan bulan Ramadhan berikutnya, yang diamini jamaah sholat jum`at dengan penuh khusyu.

Pewarta: Dae Ompu


0 Komentar